Tiga ekor beruang kecil tampak
berkumpul di depan ibu
mereka. Beruang kakak beradik
ini begitu asyik mendengarkan
kata-kata wasiat yang
disampaikan induk beruang
yang mulai tampak tua.
”Anak-anakku, kini saatnya
untuk kalian belajar tentang
hidup. Tapi, ibu tidak bisa lagi
menemani kalian. Ibu yakin,
kalian sudah bisa membedakan,
mana yang baik dan yang
buruk,” jelas induk beruang di
hadapan ketiga anaknya.
”Kira-kira, kemana kami bisa
belajar tentang hidup, Bu?”
tanya salah satu anak beruang.
”Kalian bisa pergi ke lembah
hijau yang bersebelahan
dengan hutan ini. Tapi…,” suara
induk beruang terhenti.
”Tapi apa, Bu?” sergah si sulung
kemudian.
”Kalian harus hati-hati, di sana
ada danau yang punya
pengaruh buruk. Jangan sekali-
kali merasa nyaman di sana,”
ungkap sang induk begitu
serius.
Selepas perpisahan, ketiganya
pun berangkat. Dari kejauhan,
sang induk hanya mampu
melambaikan tangan demi
memunculkan kemandirian tiga
puteranya.
Berbagai hal di perjalanan
mereka alami. Mulai dari
bertemu penghuni-penghuni
hutan yang baik, hingga yang
sangat sangar. Inilah mungkin
yang dimaksud sang induk
sebagai belajar tentang hidup.
Perjalanan mereka pun terhenti
ketika sebuah danau
membentang di hadapan
mereka. Airnya begitu jernih,
ikan-ikan segar melompat-
lompat dari balik permukaan
air danau. Tapi anehnya,
hampir tak satu pun hewan
darat yang berada di tepian
danau.
Dan sontak saja, ketiga beruang
cilik ini pun merasa haus.
Genangan air danau yang
tampak begitu segar, kian
menghentak rasa dahaga
mereka. Ketiganya pun
menghambur ke arah tepian
danau dan langsung mencicipi
air yang tampak begitu segar.
Kian dicicipi, rasa dahaga kian
besar. Dan, dahaga pun
berubah menjadi lapar yang
luar biasa.
Tiba-tiba salah satu dari mereka
seperti menyadari sesuatu. ”Hei
tunggu. Bukankah ini danau
buruk yang dimaksud ibu?”
teriak si bungsu kepada dua
kakaknya yang tampak sudah
berada di tengah danau sambil
memangsa ikan-ikan yang ada.
Si bungsu pun beranjak
menjauh dari air danau.
Teriakannya berkali-kali seperti
tak terdengar kedua kakaknya.
Tapi, si bungsu tak mau
menyerah. Hingga, di luar
dugaannya, kedua kakaknya
tampak beringas. Mereka
melempari si bungsu dengan
sampah ikan yang sudah
mereka makan.
Si bungsu pun tertegun ketika
dari kejauhan, ia menangkap
warna merah menyala dari
sorot mata kakak-kakaknya.
Sontak, ia pun berlari secepat
yang ia bisa.
**
Allah yang Maha Sayang,
melebihi sayangnya seorang ibu
kepada anak-anaknya, kerap
mengingatkan kita melalui ayat-
ayat Alquran tentang ’danau’
indah yang punya pengaruh
sangat buruk untuk manusia.
’Danau’ indah itu bisa
menenggelamkan kesadaran
bahwa hidup ini hanya
perhentian sejenak. ’Danau’
indah itu juga mampu
membolak-balikkan mata batin
kita hingga yang baik menjadi
buruk, yang buruk menjadi
baik, dan yang mestinya
disayang menjadi harus
dibuang.
’Danau’ yang tampak indah itu
adalah perhiasan dunia yang
mungkin selalu membuat kita
nyaman.

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s