Suatu pemandangan yang miris di berbagai tempat, entah itu mushalla, surau maupun masjid pada waktu shalat telah tiba.
Kumandang adzan pun menggema keras lewat pengeras suara di atas menara. Namun ada dua suara yang biasa berkumandang:
1. Orang tua
2. Anak-anak
Dan sangat jarang sekali kita jumpai suara seorang anak muda menggema melalui pengeras suara masjid dengan menyerukan panggilan shalat. Mengapa?
Ketika suara tua menderu, orang lain yang mendengarpun jadi tidak bersemangat untuk jamaah. Ketika suara anak-anak yang terdengar memanggil, yang mendengarpun merasa enggan di seru anak-anak.
Ibarat orang cari penumpang, maka dia harus gesit, suarapun diatur seindah mungkin supaya orang lain terpesona kemudian mau menaiki bus kita. Orang gak akan tertarik bila yang jerit-jerit surabaya-jakarta dengan suara lembek dan pelan seperti adzannya orang tua. Lalu dimanakah para pemuda kita?
Kenapa band ramai dengan anak muda sedangkan adzan cuma orang tua yang bersuara serak-serak seperti mau mengajak orang untuk tidur. Dimanakah suara muda yang indah itu? Apakah mau menjadi muadzin bila sudah udzur? Apakah menjadi muadzin muda adalah sebuah kerugian?
Inilah fenomena yang ada di sekitar kita.

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s