Seekor tupai tampak berlari
kencang. Ia juga melompat dari
satu ranting ke ranting dengan
begitu lincahnya. Ia terus berlari
dan melompat, hingga akhirnya
berhenti di pucuk sebuah
pohon. Di situlah akhirnya tupai
bernafas lega, “Ah, akhirnya
aku bisa selamat dari kejaran
petani itu!” ucapnya sambil
menoleh-noleh ke arah bawah
pohon.
Tak jauh dari situ, seorang
petani tampak berlari sambil
mendongak ke atas. Ia seperti
mencari-cari sesuatu. “Aku
harus bisa menangkap tupai
itu,” ucapnya sambil menahan
nafas yang mulai tersengal-
sengal. Hingga akhirnya, ia
berhasil menemukan jejak tupai
yang bertengger di puncak
sebuah pohon.
“Hei, tupai. Mau lari kemana
lagi, kau? Aku akan terus
memburumu. Gara-gara
ulahmu, ladang coklatku tak
bisa dipanen!” teriak sang
petani sambil menunjuk-nunjuk
ke arah tupai yang tetap
bergeming di atas pohon.
“Hei petani, silakan saja kau
berteriak-teriak. Kau tidak akan
pernah mampu menangkapku,
karena aku terlalu tinggi
untukmu!” balas teriak tupai
kepada petani.
Apa yang dikatakan tupai
mungkin ada benarnya. Puncak
pohon itu begitu tinggi dengan
dahan dan ranting yang begitu
jarang. Bisa dipastikan, sang
petani tidak akan mampu
meraih tubuh sang tupai yang
berada di jauh ketinggian.
“Tidak! Aku akan cari cara
untuk menangkapmu!” teriak
sang petani sambil
mengeluarkan sesuatu dari
dalam keranjang jinjingnya.
Sang petani mengeluarkan
sebilah kampak. Beberapa saat
kemudian, ia pun mulai
mengarahkan kampak tajamnya
itu ke pangkal pohon. Walau
tinggi, pohon itu tergolong
kurus dan begitu mudah untuk
dirobohkan.
Benar saja, hanya dalam waktu
yang tidak terlalu lama, sang
petani berhasil membuat pohon
seperti berada di ujung tanduk.
Pangkalnya nyaris putus. Ia
hanya perlu sedikit mendorong
batang pohon itu untuk
kemudian menumbangkannya.
Hal yang tidak terpikirkan oleh
tupai, ia akhirnya tidak sekadar
jatuh, tapi juga tertimpa pohon
yang saat ini ia tenggerkan.
**
Jangan pernah aman dengan
sebuah ‘pohon ketinggian’
ketika kita tak lagi akrab
dengan pangkal di mana
‘pohon’ yang meninggikan kita
itu berada. Karena setinggi apa
pun kita berada, ketika pangkal
tak lagi kuat menopang, kita
akan jatuh bersama ‘pohon
tinggi’ itu dan terjerembab ke
posisi yang paling bawah.
(muhammadnuh@eramuslim.com)

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s