Rasulullah SAW bersabda,
”Hendaklah kamu merasa malu
kepada Allah SWT
dengan malu yang sebenarnya.”
Para sahabat menjawab, ”Ya
Nabiyullah,
alhamdulillah kami sudah
merasa malu.” Kata Nabi, ”Tidak
segampang itu. Yang dimaksud
dengan malu kepada Allah SWT
dengan sebenarnya malu adalah
kemampuan kalian memelihara
kepala beserta segala isinya,
memelihara perut dan apa yang
terkandung di dalamnya,
banyak-banyak mengingat mati
dan cobaan (Allah SWT). Siapa
yang menginginkan akhirat
hendaklah ia meninggalkan
perhiasan dunia. Siapa yang
telah mengamalkan demikian,
maka demikianlah malu yang
sebenarnya kepada Allah
SWT.” (HR Tirmidzi dari Abdullah
bin Mas’ud).
Hadis tersebut menggambarkan
betapa besarnya manfaat rasa
malu dalam
mengontrol kehidupan seorang
Muslim. Mulai dari cara berpikir
dan apa yang
dipikirkan, cara menjaga perut
dari makanan haram, sampai
sikap hidup yang
senantiasa ingat pada kematian,
bisa dimasukkan sebagai refleksi
dari rasa malu kepada Allah
SWT.
Semakin tinggi rasa malu
seseorang kepada Allah SWT,
semakin terjaga ia dari
perbuatan salah, semakin
terpelihara ia dari makanan
haram, dan semakin ingat ia
akan kefanaan dunia yang
melenakan. Sebaliknya, semakin
hilang rasa malu pada
seseorang, semakin tak
terkontrol perilakunya, semakin
terbiasa dengan makanan
haram, dan semakin lupa
dengan akhirat.
Nabi Muhammad SAW pernah
menjelaskan bahwa memelihara
rasa malu kepada Allah SWT
akan mendatangkan kebaikan,
baik bagi orang yang
memeliharanya maupun bagi
orang lain. Sabda beliau, ”Malu
tak akan datang kecuali dengan
kebaikan.” (HR Muslim dari
Imran ibn Husein). Dengan kata
lain, rasa malu akan mendidik
seorang Muslim untuk menjaga
perilaku, sikap, maupun ucapan.
Menurut Buya Mawardi
Muhammad dalam Kitab Jawahir
Alhadits, rasa malu merupakan
sesuatu yang mencegah seorang
Mukmin dari perbuatan dosa
lantaran takut kepada Allah
SWT. Ada ataupun tidak ada
orang lain yang melihat, ia tetap
berpegang pada keyakinan
bahwa Allah SWT senantiasa
mengawasinya. Dia akan
senantiasa menyadari bahwa tak
ada satu ruang pun yang luput
dari pengamatan Allah SWT.
Sedangkan kalau malu hanya
berpatokan pada pandangan
manusia, maka hal itu akan
melahirkan manusia-manusia
yang bersikap munafik. Di depan
banyak orang, dia akan bersikap
baik, santun, ramah, dan
sebagainya. Begitu tidak terlihat
banyak manusia, dia akan
berkhianat, korupsi,
menyengsarakan orang lain,
serta melakukan kejahatan
lainnya.
Rasa malu merupakan identitas
bagi setiap Muslim. Rasulullah
SAW bersabda, ”Bagi setiap
agama ada akhlak. Akhlak
agama Islam adalah malu.” (HR
Malik dari Zaid ibn Thalhah).
Artinya, rasa malu merupakan
bagian yang tak boleh
terpisahkan dari diri setiap
Muslim.
Begitu hilang rasa malunya,
maka hilang pula kepribadiannya
sebagai seorang
Muslim. Ia akan terbiasa berbuat
dosa, baik terang-terangan
maupun tersembunyi. Makanya,
sangat wajar jika Rasulullah SAW
murka terhadap orang yang tak
punya rasa malu.

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s