Hari Jum’at tidak hanya
mengandung keutamaan, tetapi
juga didalamnya terdapat hukum
dan adab-adab yang penting
untuk diilmui dan diamalkan
oleh setiap Muslim. Pada edisi ini
kami ketengahkan beberapa
hukum dan adab tersebut; dan
tak lupa kami sertakan
penyebutan beberapa bentuk
kesalahan yang terjadi
didalamnya.
Hukum dan Adab-Adab Jum’at
Diantara hukum dan adab-adab
Jum’at yaitu :
=> Disunnahkan bagi imam
sholat subuh pada hari Jum’at
untuk membaca Surah As-
Sajadah secara lengkap pada
rakaat pertama dan Surah Al-
Insaan secara lengkap pada
rakaat kedua. Sebagaimana hal
ini senantiasa dikerjakan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Beliau tidak hanya
membaca sebagian saja dari dua
Surah tersebut–sebagaimana
sering dilakukan oleh sebagian
imam–akan tetapi beliau
membacanya secara lengkap.
Hal ini terdapat di dalam hadits
riwayat Al-Bukhori dan Muslim.
=> Disunnahkan untuk
memperbanyak membaca
shalawat atas Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam pada hari Jum’at,
sebagaimana disebutkan dalam
hadits Aus Bin Aus radhiyallahu
‘anhu, bahwasanya Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
“Maka perbanyaklah oleh kalian
membaca shalawat atasku pada
hari Jum’at, karena
sesungguhnya bacaan shalawat
kalian itu akan dinampakkan/
disampaikan kepadaku.” [HR.
Ahmad dan Ashhabus Sunan,
dishohihkan oleh An-Nawawi
dan dihasankan oleh Al-
Mundziri]
=> Sholat Jum’at WAJIB atas
setiap laki-laki Muslim yang
merdeka dan mukallaf (telah
dikenai pembebanan syari’at).
Sholat Jum’at tidak wajib atas
musafir (orang yang sedang
dalam perjalanan jauh), budak
dan wanita. Namun jika mereka
mengerjakannya, maka hal itu
telah mencukupinya.
Kewajiban sholat Jum’at ini bisa
gugur karena adanya udzur
seperti sakit, keadaan yang
menakutkan dan sebagainya.
=> Wajib mandi pada hari
Jum’at. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda :
“Apabila salah seorang dari
kalian datang untuk
melaksanakan sholat Jum’at,
maka hendaknya ia
mandi.” [Muttafaqun ‘alaih]
Hadits ini menunjukkan bahwa
mandi yang dimaksud adalah
mandi untuk sholat Jum’at dan
dikhususkan bagi orang (laki-laki
atau perempuan) yang hendak
mendatangi (mengerjakan sholat
Jum’at). Adapun bagi yang tidak
mendatangi sholat Jum’at, maka
ia tidak wajib mandi. Mandi yang
disyari’atkan (mandi yang
hukumnya wajib ataupun mandi
yang hukumnya sunnah) harus
memenuhi 2 rukun, yaitu :
Pertama: Berniat, karena niatlah
yang memisahkan/ membedakan
antara ibadah dengan kebiasaan
(adat). Dan niat itu adalah
pekerjaan hati, tidak dilafazhkan.
Kedua:Membasuh seluruh
anggota badan, karena hakikat
mandi itu ialah membasuh
seluruh anggota badan. Hal ini
berdasarkan firman Allah Ta’ala :
ﻭَﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺟُﻨُﺒًﺎ ﻓَﺎﻃَّﻬَّﺮُﻭﺍْ
“Jika kalian junub maka
mandilah.” [QS. Al-Maidah : 6]
=> Memakai parfum dan
bersiwak/ menggosok gigi serta
mengenakan pakaian yang
terbaik (yang dimiliki) merupakan
adab seorang Muslim pada hari
Jum’at
Abu Ayyub berkata : Aku
mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda : “Barangsiapa yang
mandi pada hari Jum’at dan
memakai wewangian (parfum)
jika dia punya, serta memakai
pakaiannya yang terbaik,
kemudian dia keluar dan dia
tenang (tidak terburu-buru)
hingga dia mendatangi masjid,
kemudian dia sholat sesuai yang
dia inginkan, dan dia tidak
mengganggu seseorangpun,
kemudian dia diam ketika imam
telah keluar (berkhutbah) hingga
imam sholat, maka hal tersebut
akan menjadi kaffarat (penebus)
bagi dosa-dosanya yang terjadi
diantara dua Jum’at.” [HR.
Ahmad dan dishohihkan oleh
Ibnu Khuzaimah]
Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu
‘anhu meriwayatkan bahwasanya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda :
“Diwajibkan mandi pada hari
Jum’at bagi setiap orang yang
telah bermimpi (baligh),
demikian pula bersiwak dan
memakai wangi-wangian sebatas
kemampuannya.” [HR. Muslim]
=> Disunnahkan bersegera
(datang lebih awal) menuju
sholat Jum’at, dan hal ini
merupakan sunnah yang
hampir-hampir mati/ lenyap
maka semoga Allah Ta’ala
merahmati orang yang
menghidupkan sunnah ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
“Apabila datang hari Jum’at,
malaikat berdiri di pintu masjid
lalu mereka mencatat orang-
orang yang datang satu persatu.
Maka permisalan orang yang
bergegas-gegas menghadiri
sholat Jum’at (datang lebih awal
– pent) seperti orang yang
menghadiahkan seekor unta
gemuk, orang yang datang
setelahnya seperti orang yang
menghadiahkan seekor sapi
betina, kemudian seperti orang
yang menghadiahkan seekor
domba, kemudian seperti orang
yag menghadiahkan seekor ayam
betina, kemudian seperti orang
yang menghadiahkan sebutir
telur. Apabila imam telah keluar
dan telah duduk di atas mimbar,
para malaikat itu pun melipat
lembar catatan mereka dan
duduk untuk mendengarkan
dzikir (khutbah).” [Hadits
Muttafaqun’alaih dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
=> Disunnahkan bagi seorang
muslim untuk menyibukkan diri
dengan sholat, dzikir dan
membaca Al-Qur’an hingga
imam keluar, sebagaimana
disebutkan dalam hadits Salman
dan Abu Ayyub.
=> Wajib hukumnya untuk diam
mendengarkan khutbah dan
memperhatikan apa-apa yang
disampaikan dalam khutbah
tersebut. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda :
“Apabila kamu berkata kepada
rekanmu “diamlah” pada hari
Jum’at sementara imam sedang
khutbah, maka sungguh kamu
telah berbuat sia-
sia.” [Muttafaqun ‘alaih].
=> Disunnahkan membaca
Surah Al-Kahfi pada hari Jum’at.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang membaca
Surah Al-Kahfi pada hari Jum’at,
maka dia akan dinaungi cahaya
diantara dua Jum’at.” [HR. Al-
Hakim dan Al-Baihaqi,
dishahihkan oleh Syaikh Al-
Albani].
=> Tidak boleh bersafar pada
hari Jum’at bagi orang yang wajib
baginya sholat Jum’at, sebelum ia
melaksanakan sholat Jum’at
pada saat telah masuk waktu
[Zadul Ma’ad : 1/382].
Adapun sengaja meninggalkan
safar pada hari Jum’at dengan
keyakinan dalam rangka
ta’abbud (menganggapnya
sebagai ibadah) maka hal ini
termasuk bid’ah (perkara baru
dalam agama).
=> Makruh hukumnya
mengkhususkan puasa pada hari
Jum’at dan sholat lail pada
malam Jum’at, berdasarkan
hadits Abu Hurairah dari Nabi,
beliau bersabda:
“Janganlah kalian
mengkhususkan malam Jum’at
untuk sholat lail, dan jangan
pula mengkhususkan hari Jum’at
untuk berpuasa diantara hari-
hari yang ada. [HR. Muslim]
=> Disunnahkan sholat sunat 2
rakaat setelah sholat Jum’at
(Muttafaqun ‘alaih), atau 4
rakaat setelahnya [HR. Muslim].
=> Apabila seorang Muslim
masuk masjid pada hari Jum’at
dan imam sedang berkhutbah,
maka hendaknya ia sholat 2
rakaat (tahiyyatul masjid) yang
ringan sebelum ia duduk [HR.
Muslim].
=> Disunnahkan bagi imam
sholat Jum’at untuk membaca
Surah Al-Jumu’ah dan Al-
Munafiqun, atau Surah Al-A’laa
dan Al-Ghosyiyah, karena Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam
senantiasa membaca Surah-
Surah tersebut [HR. Muslim].
Beberapa Kesalahan Di Hari
Jum’at
=> Sebagian orang
meninggalkan sholat Jum’at atau
meremehkannya, padahal Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam telah
bersabda: “Sungguh suatu kaum
berhenti dari meninggalkan
sholat jum’at atau Allah akan
mengunci mati hati mereka
kemudian mereka benar-benar
menjadi orang-orang yang
lalai” [HR. Muslim].
=> Sebagian orang tidak
menghadirkan niat ketika
mendatangi sholat Jum’at, mreka
ke masjid hanya sekadar adat
(kebiasaan), padahal niat adalah
syarat sahnya sholat Jum’at dan
ibadah-ibadah yang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam telah bersabda :
“Hanyalah amal-amal itu sesuai
dengan niatnya.” [HR. Al-
Bukhori].
=> Begadang pada malam
Jum’at hingga akhir malam yang
menyebabkan lalai dari sholat
shubuh, dengan demikian
pelakunya mengawali hari Jum’at
dengan salah satu dosa besar,
padahal Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam telah bersabda :
“Sholat yang paling utama di sisi
Allah adalah sholat subuh pada
hari Jum’at yang dilakukan
secara berjama’ah.” [Ash-
Shohihah : 1566].
=> Meremehkan khutbah Jum’at
dimana sebagian orang datang
pada saat khutbah sudah
berlangsung, bahkan ada yang
datang ketika sholat sudah
dimulai.
=> Tidak mandi Jum’at, memakai
wewangian, bersiwak/
menggosok gigi dan memakai
pakaian yang bagus
=> Masih berjual beli padahal
adzan Jum’at sudah
berkumandang. Allah Ta’ala
telah berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman,
apabila diseru untuk
menunaikan sholat pada hari
Jum’at, maka bersegeralah kalian
kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagi
kalian jika kalian
mengetahui.” [QS. Al-Jumu’ah :
9].
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma berkata: “Diharamkan
jual beli pada waktu itu.”
=> Ta’abbud kepada Allah
dengan berbagai perbuatan
maksiat pada hari Jum’at, seperti
mencukur/ memotong jenggot
tiap hari Jum’at karena
menyangka hal itu termasuk
kesempurnaan kebersihan.
=> Sebagian orang memilih
duduk dibagian belakang
padahal shaf-shaf depan belum
penuh. Sebagian lainnya duduk
dibagian luar (teras) masjid
padahal di dalam masjid masih
banyak tempat yang kosong
=> Seseorang menyuruh orang
lain berdiri/ pindah dari
tempatnya kemudian ia
menduduki tempat orang
tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda :
“Janganlah seseorang diantara
kaian menyuruh saudaranya
berdiri pada hari Jum’at,
kemudian ia mengambil alih
tempat duduknya. Akan tetapi
hendaknya ia berkata : “Beri
tempatlah kalian!”[HR. Muslim]
=> Melangkahi leher/ pundak
dan memisahkan diantara dua
orang serta mengganggu orang-
orang yang duduk dan
mempersempit mereka. Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam telah
menegur seorang lelaki yang
melangkahi leher/ pundak orang
lain pada hari Jum’at sementara
beliau sedang khutbah:
“Duduklah, sungguh kamu
sudah mengganggu dan
terlambat.” [Shohih At-Targhib
wat Tarhib]
=> Mengeraskan suara ketika
berbicara atau membaca Al-
Qur’an sehingga mengacaukan
orang-orang yang sholat atau
orang lain yang sedang
membaca Al-Qur’an.
=> Keluar dari masjid setelah
adzan tanpa udzur
=> Tidak sholat Tahiyyatul Masjid
saat imam sedang khutbah
=> Melalaikan khutbah dan
tidak diam mendengarkan apa
yang disampaikan oleh khotib.
=> Banyak bergerak ketika
sholat, buru-buru keluar dari
masjid setelah imam salam, lewat
di depan orang yang sholat dan
saling dorong/ berdasak-desakan
di pintu tanpa mengerjakan
dzikir-dzikir yang disyari’atkan
setelah sholat.
=> Khotib/imam
memperpanjang khutbah dan
memendekkan sholatnya.
‘Ammar berkata bahwa ia
mendengar Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda :
“Sesungguhnya panjangnya
sholat seseorang dan ringkasnya
khutbahnya adalah tanda faqih/
pahamnya tentang ilmu agama
ini, maka panjangkanlah sholat
kalian dan pendekkanlah
khutbah,…… [HR. Muslim]
=> Tidak adanya persiapan yang
baik untuk khutbah dan tidak
memilih materi yang sesuai serta
jauh/ tidak cocok dengan
kebutuhan orang-orang yang
mendengar
=> Banyaknya kata-kata yang
salah pada khutbah dari
sebagian khotib
=> Sebagian khotib
menyampaikan hadits-hadits
lemah (dho’if) dan palsu
(maudhu’) serta perkataan-
perkataan yang batil tanpa
menjelaskan kebatilannya.
=> Sebagian khotib meringkas
khutbah kedua, hanya sekedar
membaca do’a; dan mereka
membiasakan hal tersebut
=> Tidak menyampaikan
sesuatupun dari Al-Qur’an di
tengah-tengah khutbah, dan ini
menyelisihi petunjuk Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam
sebagaimana dikatakan oleh
Bintu Haritsah Bin Nu’man :
“Saya tidak hafal Surah “Qaaf,
wal qur’anil majiid” kecuali dari
mulut Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam yang berkhutbah
dengan surah tersebut setiap
Jum’at.” [HR. Muslim].
Wallahu Ta’ala A’lam Bish
showab
Maroji :
1. Al-Jum’ah, Ahkaamu, Adaabu,
Fadho’ilu Ma’a Tanbihaat ‘Ala
Ba’dhil Akhtho’, Kholid Abu
Sholih
2. Al-Ajwiba An-Naafi’ah an As’ilati
Lajnah Masjid Al-Jaami’ah, Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-
Albani
3. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s