Allah subhanahu wa ta’ala
berfirman : “Katakanlah:
‘Adakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui?’
Sesungguhnya orang yang
berakallah yang dapat menerima
pelajaran.” (Az-Zumar:9).
Allah subhanahu wa ta’ala
berfirman : “Adakah orang yang
mengetahui bahwasanya apa
yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu itu benar sama dengan
orang yang buta? Hanyalah
orang-orang yang berakal saja
yang dapat mengambil
pelajaran.” (Ar-Ra’d:19).
01. Shalat Istikharah.
Melakukan shalat istikharah
terlebih dahulu untuk memohon
petunjuk kepada Allah mengenai
waktu safar, kendaraan yang
digunakan, teman perjalanan
dan arah jalan. Dari Jabir bin
‘Abdillah, beliau berkata,
ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ –
ﻳُﻌَﻠِّﻢُ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑَﻪُ ﺍﻻِﺳْﺘِﺨَﺎﺭَﺓَ ﻓِﻰ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻛُﻠِّﻬَﺎ ،
ﻛَﻤَﺎ ﻳُﻌَﻠِّﻢُ ﺍﻟﺴُّﻮﺭَﺓَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam biasa mengajari para
sahabatnya shalat istikhoroh
dalam setiap urusan. Beliau
mengajari shalat ini sebagaimana
beliau mengajari surat dari Al
Qur’an.” [HR. Bukhari no. 7390]
02. Bermusyawarah dengan
keluarga atau orang yang
berilmu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
berfirman:
ﻭَﺃَﻣْﺮُﻫُﻢْ ﺷُﻮﺭَﻯ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ
“Dan perkara mereka
dimusyawarahkan di antara
mereka.” (Asy-Syura: 38)
Yaitu mereka memusyawarahkan
permasalahan di antara mereka,
tidak bersikap terburu-buru/
tergesa-gesa, dan mereka tidak
menuruti pendapat mereka
sendiri. Adalah kebiasaan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengajak musyawarah
para sahabatnya dalam urusan-
urusan beliau dan Allah
Subhanahu wa Ta’ala
perintahkan hal ini kepada
beliau dalam firman-Nya:
ﻭَﺷَﺎﻭِﺭْﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﺍْﻷَﻣْﺮِ
“Dan ajaklah mereka
musyawarah dalam urusan-
urusan yang ada.” [Fathul Qadir,
4/642].
03. Meminta izin kepada
orangtua.
Seseorang datang kepada Nabi
shalallahu ‘alaihi wasallam
meminta izin untuk pergi Jihad,
maka Nabi shalallahu ‘alaihi
wasallam bertanya kepadanya,
“Apakah kedua ibu bapakmu
masih hidup?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya.”
Maka Nabi shalallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Tinggallah
dengan kedua orangtuamu,
maka itulah Jihadmu.”
Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
“Hadits di atas dijadikan dalil
haramnya safar tanpa izin
orangtua. Karena menakala
Jihad dilarang, padahal
keutamaannya sangat agung,
maka safar yang mubah tentu
lebih dilarang…” [Fathul Bari,
VI/174].
04. Mencukupi bekal dan
harta dengan baik baik untuk
orang yang safar maupun
keluarga yang ditinggalkan.
Allah Ta’ala berfirman, “…dan
janganlah kamu menjerumuskan
dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan.” [QS Al-Baqarah:
195].
Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Tidak boleh
memudharatkan diri sendiri dan
memudharatkan orang lain.” [HR
Malik II/745].
05. Pergi dengan harta yang
halal.
Rasulullah menyebutkan
seseorang yang mengadakan
perjalanan jauh, rambutnya
kusut dan berdebu, ia
mengangkat kedua tangannya ke
arah langit sambil mengatakan:
“Ya rabb, ya rabb, sementara
makanannya haram,
minumannya haram, pakaiannya
juga haram, bahkan diberi dari
yang haram-haram, maka (beliau
berkata:) mana mungkin akan
dikabulkan keinginannya.” [HR.
Muslim bab Qubulus Shadaqah
minal Kasbit-Thayyib no. 1015].
06. Berwasiat atau menulis
wasiat untuk kerabatnya.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu
‘anhuma, sesungguhnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Tidaklah
layak bagi orang muslim yang
mempunyai sesuatu yang hendak
diwasiatkan selagi masih hidup
selama dua malam, melainkan
wasiatnya harus sudah ditulis di
sisinya.” [Diriwayatkan Al-Bukhari
dan Muslim].
Ibnu Umar berkata, “Semenjak
kudengar sabda beliau ini, tidak
pernah lewat satu malam pun,
melainkan aku sudah
mempunyai wasiat.”
07. Melakukan perjalanan
bersama 3 orang atau lebih.
Sebagaimana hadits,
ﺍﻟﺮَّﺍﻛِﺐُ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ ﻭَﺍﻟﺮَّﺍﻛِﺒَﺎﻥِ ﺷَﻴْﻄَﺎﻧَﺎﻥِ
ﻭَﺍﻟﺜَّﻼَﺛَﺔُ ﺭَﻛْﺐٌ
“Satu pengendara (musafir)
adalah syaithan, dua pengendara
(musafir) adalah dua syaithan,
dan tiga pengendara (musafir)
itu baru disebut rombongan
musafir.”[HR. Abu Daud no.
2607, At Tirmidzi no. 1674 dan
Ahmad 2/186. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini
hasan sebagaimana dalam As
Silsilah Ash Shohihah no. 62].
Yang dimaksud dengan syaithan
di sini adalah jika kurang dari
tiga orang, musafir tersebut
sukanya membelot dan tidak
taat.[Lihat Fathul Bari, Ibnu
Hajar Al Asqolani, Darul
Ma’rifah, 1379, 6/53 dan
penjelasan Syaikh Al Albani
dalam As Silsilah Ash Shohihah
no. 62].
Namun larangan di sini bukanlah
haram (tetapi makruh) karena
larangannya berlaku pada
masalah adab.[Lihat perkataan
Ath Thobari yang dibawakan
oleh Ibnu Hajar Al Asqolani
dalam Fathul Bari, 6/53].
08. Mencari orang atau
teman-teman seperjalanan
yang shalih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳْﻦِ ﺧَﻠِﻴْﻠِﻪِ ﻓَﻠْﻴَﻨْﻈُﺮْ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣَﻦْ
ﻳُﺨَﺎﻟِﻞُ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ )
“Seseorang itu tergantung
kepada kepribadian teman
dekatnya, maka hendaklah salah
seorang diantara kalian melihat
siapa yang dijadikan teman
karibnya.” [HR. At-Tirmidzi].
09. Memilih atau mengangkat
pemimpin rombongan.
Adapun perintah untuk
mengangkat pemimpin ketika
safar adalah,
ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻓِﻰ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﻠْﻴُﺆَﻣِّﺮُﻭﺍ ﺃَﺣَﺪَﻫُﻢْ
“Jika ada tiga orang keluar untuk
bersafar, maka hendaklah
mereka mengangkat salah di
antaranya sebagai ketua
rombongan.” [HR. Abu Daud no.
2609. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini
hasan shahih].
10. Dianjurkan bepergian pada
hari Kamis.
Dari Ka’ab bin Malik, beliau
berkata,
ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺧَﺮَﺝَ
ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴﺲِ ﻓِﻰ ﻏَﺰْﻭَﺓِ ﺗَﺒُﻮﻙَ ، ﻭَﻛَﺎﻥَ
ﻳُﺤِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﺨْﺮُﺝَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴﺲِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam keluar menuju perang
Tabuk pada hari Kamis. Dan
telah menjadi kebiasaan beliau
untuk bepergian pada hari
Kamis.”[HR. Bukhari no. 2950].
11. Melakukan perjalanan
pada malam hari.
Waktu terbaik untuk melakukan
safar adalah di waktu duljah.
Sebagian ulama mengatakan
bahwa duljah bermakna awal
malam. Ada pula yang
mengatakan seluruh malam
karena melihat kelanjutan hadits.
Jadi dapat kita maknakan bahwa
perjalanan di waktu duljah
adalah perjalanan di malam hari
[Lihat ‘Aunul Ma’bud,
Muhammad Syamsul Haq Abu
Ath Thoyib, Darul Kutub Al
‘Ilmiyyah, Beirut, cetakan kedua,
1415 H, 7/171].
Perjalanan di waktu malam itu
sangatlah baik karena ketika itu
jarak bumi seolah-olah
didekatkan. Dari Anas bin Malik,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺪُّﻟْﺠَﺔِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻷَﺭْﺽَ ﺗُﻄْﻮَﻯ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ
“Hendaklah kalian melakukan
perjalanan di malam hari, karena
seolah-olah bumi itu terlipat
ketika itu.”[HR. Abu Daud no.
2571, Al Hakim dalam Al
Mustadrok 1/163, dan Al Baihaqi
dalam Sunan Al Kubro 5/256.
Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini shahih. Lihat As
Silsilah Ash Shahihah no. 681].
12. Melaksanakan shalat 2
rakaat sebelum pergi dan
tatkala pulang (atau mau
masuk rumah).
Sebagaimana terdapat hadits
dari Abu Hurairah, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺇِﺫَﺍ ﺧَﺮَﺟْﺖَ ﻣِﻦْ ﻣَﻨْﺰِﻟِﻚَ ﻓَﺼَﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ
ﻳَﻤْﻨَﻌَﺎﻧِﻚَ ﻣِﻦْ ﻣَﺨْﺮَﺝِ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀِ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻠْﺖَ ﺇِﻟَﻰ
ﻣَﻨْﺰِﻟِﻚَ ﻓَﺼَﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻳَﻤْﻨَﻌَﺎﻧِﻚَ ﻣِﻦْ ﻣَﺪْﺧَﻞِ
ﺍﻟﺴُّﻮْﺀِ
“Jika engkau keluar dari
rumahmu, maka lakukanlah
shalat dua raka’at yang dengan
ini akan menghalangimu dari
kejelekan yang berada di luar
rumah. Jika engkau memasuki
rumahmu, maka lakukanlah
shalat dua raka’at yang akan
menghalangimu dari kejelekan
yang masuk ke dalam
rumah.”[HR. Al Bazzar, hadits ini
shahih. Lihat As Silsilah Ash
Shohihah no. 1323].
13. Berpamitan ketika mau
pergi kepada orang yang
ditinggalkan.
Do’a yang biasa diucapkan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
kepada orang yang hendak
bersafar adalah,
ﺃَﺳْﺘَﻮْﺩِﻉُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺩِﻳﻨَﻚَ ﻭَﺃَﻣَﺎﻧَﺘَﻚَ ﻭَﺧَﻮَﺍﺗِﻴﻢَ
ﻋَﻤَﻠِﻚَ
“Astawdi’ullaha diinaka, wa
amaanataka, wa khowaatiima
‘amalik (Aku menitipkan
agamamu, amanahmu, dan
perbuatan terakhirmu kepada
Allah)”[HR. Abu Daud no. 2600,
Tirmidzi no. 3443 dan Ibnu
Majah no. 2826. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini
shahih. Lihat As Silsilah Ash
Shahihah no. 14 dan 15.].
14. Mendoakan keluarga atau
kerabat yang ditinggalkan.
Hendaklah musafir atau yang
berpergian mengatakan kepada
orang yang ditinggalkan,
ﺃَﺳْﺘَﻮْﺩِﻋُﻚَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻻَ ﺗَﻀِﻴﻊُ ﻭَﺩَﺍﺋِﻌُﻪُ
“Astawdi’ukallaha alladzi laa
tadhi’u wa daa-i’ahu (Aku
menitipkan kalian pada Allah
yang tidak mungkin menyia-
nyiakan titipannya).”[HR. Ibnu
Majah no. 2825. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini
shahih].
15. Membaca doa ketika
keluar dari rumah.
ketika keluar rumah dianjurkan
membaca do’a:
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻻَ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَ ﻗُﻮَّﺓَ
ﺇِﻻَّ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ
“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa
hawla wa laa quwwata illa
billah” (Dengan nama Allah, aku
bertawakkal kepada-Nya, tidak
ada daya dan kekuatan kecuali
dengan-Nya). [HR. Abu Daud no.
5095 dan Tirmidzi no. 3426, dari
Anas bin Malik. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini
shahih. Lihat Shahih At Targhib
wa At Tarhib no. 1605].
16. Membaca doa naik
kendaraan.
Ketika menaikkan kaki di atas
kendaraan hendaklah seorang
musafir membaca, “Bismillah,
bismillah, bismillah”. Ketika
sudah berada di atas kendaraan,
hendaknya mengucapkan,
“Alhamdulillah”. Lalu membaca,
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺳَﺨَّﺮَ ﻟَﻨَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻟَﻪُ
ﻣُﻘْﺮِﻧِﻴﻦَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﻟَﻤُﻨْﻘَﻠِﺒُﻮﻥَ
“Subhanalladzi sakh-khoro lanaa
hadza wa maa kunna lahu
muqriniin. Wa inna ilaa robbina
lamun-qolibuun” (Maha Suci
Allah yang telah menundukkan
semua ini bagi kami padahal
kami sebelumnya tidak mampu
menguasainya, dan
sesungguhnya kami akan
kembali kepada Tuhan kami).
Kemudian mengucapkan,
“Alhamdulillah, alhamdulillah,
alhamdulillah”. Lalu
mengucapkan, “Allahu akbar,
Allahu akbar, Allahu akbar.”
Setelah itu membaca,
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺇِﻧِّﻰ ﻗَﺪْ ﻇَﻠَﻤْﺖُ ﻧَﻔْﺴِﻰ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻰ
ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ
“Subhaanaka inni qod zholamtu
nafsii, faghfirlii fa-innahu laa
yaghfirudz dzunuuba illa
anta” (Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku telah
menzholimi diriku sendiri, maka
ampunilah aku karena tidak ada
yang mengampuni dosa-dosa
selain Engkau).[HR. At Tirmidzi
no. 3446, dari ‘Ali bin Abi Thalib.
Syaikh Al Albani mengatakan
bahwa hadits ini shahih.]
17. Membaca doa safar atau
bepergian.
Jika sudah berada di atas
kendaraan untuk melakukan
perjalanan, hendaklah
mengucapkan, “Allahu akbar,
Allahu akbar, Allahu akbar.”
Setelah itu membaca,
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺳَﺨَّﺮَ ﻟَﻨَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻟَﻪُ
ﻣُﻘْﺮِﻧِﻴﻦَ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﻟَﻤُﻨْﻘَﻠِﺒُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧَّﺎ
ﻧَﺴْﺄَﻟُﻚَ ﻓِﻰ ﺳَﻔَﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺒِﺮَّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﻣِﻦَ
ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ ﻣَﺎ ﺗَﺮْﺿَﻰ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻫَﻮِّﻥْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺳَﻔَﺮَﻧَﺎ
ﻫَﺬَﺍ ﻭَﺍﻃْﻮِ ﻋَﻨَّﺎ ﺑُﻌْﺪَﻩُ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟﺼَّﺎﺣِﺐُ
ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻔَﺮِ ﻭَﺍﻟْﺨَﻠِﻴﻔَﺔُ ﻓِﻰ ﺍﻷَﻫْﻞِ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻰ
ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻭَﻋْﺜَﺎﺀِ ﺍﻟﺴَّﻔَﺮِ ﻭَﻛَﺂﺑَﺔِ ﺍﻟْﻤَﻨْﻈَﺮِ
ﻭَﺳُﻮﺀِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻘَﻠَﺐِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻤَﺎﻝِ ﻭَﺍﻷَﻫْﻞِ
“Subhanalladzi sakh-khoro lanaa
hadza wa maa kunna lahu
muqrinin. Wa inna ila robbina
lamun-qolibuun[1]. Allahumma
innaa nas’aluka fii safarinaa
hadza al birro wat taqwa wa
minal ‘amali ma tardho.
Allahumma hawwin ‘alainaa
safaronaa hadza, wathwi ‘anna
bu’dahu. Allahumma antash
shoohibu fis safar, wal kholiifatu
fil ahli. Allahumma inni
a’udzubika min wa’tsaa-is safari
wa ka-aabatil manzhori wa suu-il
munqolabi fil maali wal
ahli.” (Mahasuci Allah yang telah
menundukkan untuk kami
kendaraan ini, padahal kami
sebelumnya tidak mempunyai
kemampuan untuk
melakukannya, dan
sesungguhnya hanya kepada
Rabb kami, kami akan kembali.
Ya Allah, sesungguhnya kami
memohon kepada-Mu kebaikan,
taqwa dan amal yang Engkau
ridhai dalam perjalanan kami ini.
Ya Allah mudahkanlah
perjalanan kami ini, dekatkanlah
bagi kami jarak yang jauh. Ya
Allah, Engkau adalah rekan
dalam perjalanan dan pengganti
di tengah keluarga. Ya Allah,
sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu dari kesukaran
perjalanan, tempat kembali yang
menyedihkan, dan
pemandangan yang buruk pada
harta dan keluarga). [HR. Muslim
no. 1342, dari ‘Abdullah bin
‘Umar].
18. Memperbanyak doa,
karena doanya musafir adalah
dikabulkan/mustajab.
Dari Abu Hurairah, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﺛَﻼَﺙُ ﺩَﻋَﻮَﺍﺕٍ ﻻَ ﺷَﻚَّ ﻓِﻴﻬِﻦَّ ﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﻤُﺴَﺎﻓِﺮِ
ﻭَﺍﻟْﻤَﻈْﻠُﻮﻡِ ﻭَﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪِ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﻟَﺪِﻩِ
“Tiga do’a yang tidak diragukan
lagi terkabulnya yaitu do’a
seorang musafir, do’a orang
yang terzholimi, dan do’a orang
tua kepada anaknya.”[HR.
Ahmad 2/434. Syaikh Syu’aib Al
Arnauth mengatakan bahwa
hadits ini hasan dilihat dari jalur
lainnya].
19. Membaca doa ketika
singgah di suatu tempat.
Tujuannya agar terhindar dari
berbagai macam bahaya dan
gangguan.
Dari Khowlah binti Hakim As
Sulamiyah, beliau mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
ﻣَﻦْ ﻧَﺰَﻝَ ﻣَﻨْﺰِﻻً ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﺍﻟﺘَّﺎﻣَّﺎﺕِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ. ﻟَﻢْ ﻳَﻀُﺮُّﻩُ ﺷَﻰْﺀٌ
ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺮْﺗَﺤِﻞَ ﻣِﻦْ ﻣَﻨْﺰِﻟِﻪِ ﺫَﻟِﻚَ
“Barangsiapa yang singgah di
suatu tempat kemudian dia
mengucapkan, ”A’udzu bi
kalimaatillahit taammaati min
syarri maa kholaq (Aku
berlindung dengan kalimat Allah
yang sempurna dari kejelekan
setiap makhluk)”, maka tidak
ada satu pun yang akan
membahayakannya sampai dia
pergi dari tempat tersebut.”[HR.
Muslim no. 2708].
20. Membaca dzikir pagi
petang selama safar.
Allah Ta’ala berfirman:
ﻭَﺍﺫْﻛُﺮ ﺭَّﺑَّﻚَ ﻓِﻲ ﻧَﻔْﺴِﻚَ ﺗَﻀَﺮُّﻋﺎً ﻭَﺧِﻴﻔَﺔً
ﻭَﺩُﻭﻥَ ﺍﻟْﺠَﻬْﺮِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ ﺑِﺎﻟْﻐُﺪُﻭِّ ﻭَﺍﻵﺻَﺎﻝِ
ﻭَﻻَ ﺗَﻜُﻦ ﻣِّﻦَ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻠِﻴﻦَ
“Dan sebutlah (nama) Rabbmu
dalam hatimu dengan
merendahkan diri, penuh
dengan rasa takut, dan dengan
tidak mengeraskan suara, di
waktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-
orang yang lalai.” [QS. Al-A’raf:
205].
Ibnul Qayim
mengatakan,“Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah suatu saat shalat
shubuh. Kemudian (setelah
shalat shubuh) beliau duduk
sambil berdzikir kepada Allah
Ta’ala hingga pertengahan siang.
Kemudian berpaling padaku dan
berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku
di pagi hari. Jika aku tidak
berdzikir seperti ini, hilanglah
kekuatanku’ –atau perkataan
beliau yang semisal ini-.” [Al
Wabilush Shoyib min Kalamith
Thoyib, hal.63, Maktabah
Syamilah].
21. Berpakaian tebal ketika
suhu dingin.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻭَﺍﻟْﺄَﻧْﻌَﺎﻡَ ﺧَﻠَﻘَﻬَﺎ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺩِﻑْﺀٌ ﻭَﻣَﻨَﺎﻓِﻊُ
ﻭَﻣِﻨْﻬَﺎ ﺗَﺄْﻛُﻠُﻮﻥَ
“Dan Dia telah menciptakan
binatang ternak untuk kamu;
padanya ada (bulu) yang
menghangatkan dan berbagai-
bagai manfaat, dan
sebahagiannya kamu
makan.” (QS. An Nahl: 5).
Umar bin Al Khottob
radhiyallahu ‘anhu pun pernah
memberi wasiat ketika masuk
musim dingin untuk berbekal
dengan pakaian-pakaian tebal
karena beliau katakan bahwa
musim dingin adalah musuh,
begitu cepat menyerang dan
amat sulit untuk keluar.[Lathoif
Al Ma’arif, hal. 571].
22. Berwudhu dengan air
sedikit ( atau berwudhu
dengan membasuh masing-
masing 1 x atau 2 x).
Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu :
“Bahwasanya Nabi Shalallahu
‘alaihi wasallam biasa berwudhu
dengan 1 mud ( 1 genggaman
tangan orang Arab zaman Nabi )
air dan mandi dengan 4 sampai
5 mud air.” [HR: Al Bukhari no.
201, Muslim no. 325, menurut
lafazh Muslim].
Diriwayatkan dari Abdullah bin
Mughaffal bahwa dia pernah
mendengar Nabi Shalallahu
‘alaihi wasallam bersabda :
“Akan ada di kalangan umatku
suatu kaum yang berlebih-
lebihan dalam bersuci dan
berdoa.” [R: Abu Dawud (I/24)
no.96, dan dishahihkan oleh Al
Albani].
23. Berwudhu dalam cuaca
yang sangat dingin atau
memberatkan.
Disebutkan dalam shahih Muslim
dari Abu Hurairah, dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau bersabda,
ﺃَﻻَ ﺃَﺩُﻟُّﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻳَﻤْﺤُﻮ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﺨَﻄَﺎﻳَﺎ
ﻭَﻳَﺮْﻓَﻊُ ﺑِﻪِ ﺍﻟﺪَّﺭَﺟَﺎﺕِ. ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ
ﺍﻟﻠَّﻪِ. ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺳْﺒَﺎﻍُ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻜَﺎﺭِﻩِ
ﻭَﻛَﺜْﺮَﺓُ ﺍﻟْﺨُﻄَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﺴَﺎﺟِﺪِ ﻭَﺍﻧْﺘِﻈَﺎﺭُ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ
ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻓَﺬَﻟِﻜُﻢُ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎﻁُ .
“Maukah kalian untuk aku
tunjukkan atas sesuatu yang
dengannya Allah menghapus
kesalahan-kesalahan dan
mengangkat derajat?” Mereka
menjawab, “Tentu, wahai
Rasulullah.” Beliau bersabda,
“Menyempurnakan wudhu pada
sesuatu yang dibenci (seperti
keadaan yang sangat dingin
pent), banyaknya langkah kaki
ke masjid, dan menunggu shalat
berikutnya setelah shalat. Itulah
ribath.”[HR. Muslim no. 251].
24. Tayammum jika tidak ada
air.
Dari Abu Dzar bahwasanya
Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
“Sesungguhnya tanah yang suci
adalah alat bersuci bagi seorang
muslim sekalipun dia tidak
mendapatkan air sepuluh
tahun.” [HR. Nasa’i (321),
Tirmidzi (124), Abu Dawud (332),
Ahmad (5/160). Tirmidzi berkata,
“Hadits hasan shahih.”].
25. Mengusap khuf atau
sepatu ketika berwudhu.
Dan dari Shafwan bin Asad
berkata, “Artinya : Adalah Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyuruh kami apabila kami
musafir supaya tidak melepas
khuf-khuf kami selama tiga hari
tiga malam, kecuali disebabkan
jenabat (junub). Akan tetapi
(tidak harus dilepas kalau)
dikarenakan buang air besar,
kencing dan tidur” [Hadits
Riwayat Nasa’i dan Tirmidzi.
Hadits diatas yang terdpat dalam
lafal Tirmidzi. Ibnu Khuzaimah
juga meriwayatkan hadits ini, dan
sekaligus menilainya shahih].
26. Menentukan arah kiblat
untuk shalat.
Dalilnya adalah firman Allah
Ta’ala,
ﻓَﻮَﻝِّ ﻭَﺟْﻬَﻚَ ﺷَﻄْﺮَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ ﻭَﺣَﻴْﺚُ
ﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓَﻮَﻟُّﻮﺍ ﻭُﺟُﻮﻫَﻜُﻢْ ﺷَﻄْﺮَﻩُ
“Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan dimana saja
kamu berada, palingkanlah
mukamu ke arahnya.” (QS. Al
Baqarah: 144)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
juga bersabda kepada orang
jelek shalat (musi’ salatahu),
ﺇِﺫَﺍ ﻗُﻤْﺖَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻓَﺄَﺳْﺒِﻎِ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺀَ ﺛُﻢَّ
ﺍﺳْﺘَﻘْﺒِﻞِ ﺍﻟْﻘِﺒْﻠَﺔَ ﻓَﻜَﺒِّﺮْ
“Jika engkau hendak
mengerjakan shalat, maka
sempurnakanlah wudhumu lalu
menghadaplah ke kiblat,
kemudian bertakbirlah.” [HR.
Bukhari no. 6251 dan Muslim no.
912].
27. Berdoa ketika menjelang
shubuh.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
ketika bersafar dan bertemu
dengan waktu sahur, beliau
mengucapkan,
ﺳَﻤَّﻊَ ﺳَﺎﻣِﻊٌ ﺑِﺤَﻤْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺣُﺴْﻦِ ﺑَﻼَﺋِﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺻَﺎﺣِﺒْﻨَﺎ ﻭَﺃَﻓْﻀِﻞْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﻋَﺎﺋِﺬًﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Samma’a saami’un bi hamdillahi
wa husni balaa-ihi ‘alainaa.
Robbanaa shohibnaa wa afdhil
‘alainaa ‘aa-idzan billahi minan
naar (Semoga ada yang
memperdengarkan pujian kami
kepada Allah atas nikmat dan
cobaan-Nya yang baik bagi kami.
Wahai Rabb kami, peliharalah
kami dan berilah karunia kepada
kami dengan berlindung kepada
Allah dari api neraka).”[HR.
Muslim no. 2718].
28. Bisa menyaksikan fajar
shadiq dan menentukan waktu
shalat.
Allah ta’ala berfirman :
ﺃَﻗِﻢِ ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻟِﺪُﻟُﻮﻙِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ﺇِﻟَﻰ ﻏَﺴَﻖِ
ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻭَﻗُﺮْﺁﻥَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﺇِﻥَّ ﻗُﺮْﺁﻥَ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮِ ﻛَﺎﻥَ
ﻣَﺸْﻬُﻮﺩًﺍ
“Dirikanlah shalat dari sesudah
matahari tergelincir sampai gelap
malam dan (dirikanlah pula
shalat) shubuh. Sesungguhnya
salat shubuh itu disaksikan (oleh
malaikat)” [QS. Al-Israa’ : 78].
ﺣﺪﻳﺚ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗَﺎﻩُ ﺣِﻴﻦَ ﺍﻣْﺘَﺪَّ ﺍﻟْﻔَﺠْﺮُ
ﻭَﺃَﺻْﺒَﺢَ ﻭَﺍﻟﻨُّﺠُﻮﻡُ ﺑَﺎﺩِﻳَﺔٌ ﻣُﺸْﺘَﺒِﻜَﺔٌ ﻓَﺼَﻨَﻊَ ﻛَﻤَﺎ
ﺻَﻨَﻊَ ﺑِﺎﻟْﺄَﻣْﺲِ ﻓَﺼَﻠَّﻰ ﺍﻟْﻐَﺪَﺍﺓَ )ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲـ(513 :
Hadits Jibril (tentang waktu
sholat): “…kemudian Jibril
mendatangi beliau (di hari
kedua) ketika fajar memanjang,
dan bintang-bintang masih jelas
dan bercampur, lalu ia
melakukan apa yang
dilakukannya kemarin, kemudian
sholat shubuh. [HR. Nasa’i,
dishohihkan oleh Albani].
29. Shalat fardhu dengan
jama’ dan qashar.
Mengqoshor shalat di sini
hukumnya wajib sebagaimana
hadits dari ‘Aisyah,
ﻓُﺮِﺿَﺖِ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓُ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻓِﻰ
ﺍﻟْﺤَﻀَﺮِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻔَﺮِ ﻓَﺄُﻗِﺮَّﺕْ ﺻَﻼَﺓُ ﺍﻟﺴَّﻔَﺮِ ﻭَﺯِﻳﺪَ
ﻓِﻰ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﺤَﻀَﺮِ .
“Dulu shalat diwajibkan dua
raka’at dua raka’at ketika tidak
bersafar dan ketika bersafar.
Kewajiban shalat dua raka’at dua
raka’at ini masih berlaku ketika
safar. Namun jumlah raka’atnya
ditambah ketika tidak
bersafar.”[HR. Bukhari no. 350
dan Muslim no. 685].
Hadits Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ –
ﻳَﺠْﻤَﻊُ ﺑَﻴْﻦَ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻤَﻐْﺮِﺏِ ﻭَﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﻓِﻰ
ﺍﻟﺴَّﻔَﺮِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam biasa menjama’ shalat
Maghrib dan Isya’ ketika
safar”[HR. Bukhari no. 1108].
30. Shalat dengan berjama’ah.
Imam Asy Syafi’i mengatakan,
“Adapun shalat jama’ah, aku
tidaklah memberi keringanan
bagi seorang pun untuk
meninggalkannya kecuali bila
ada udzur.”[Ash Sholah wa
Hukmu Tarikiha, Darul Imam
Ahmad, Kairo-Mesir, hal. 107].
Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah
bin Baz mengatakan, “Apabila
musafir berada di perjalanan,
maka tidak mengapa dia shalat
sendirian. Adapun jika telah
sampai negeri tujuan, maka
janganlah dia shalat sendiri.
Akan tetapi hendaknya dia shalat
secara berjama’ah bersama
jama’ah di negeri tersebut,
kemudian dia menyempurnakan
raka’atnya (tidak mengqoshor).
Adapun jika dia melakukan
perjalanan sendirian dan telah
masuk waktu shalat, maka tidak
mengapa dia shalat sendirian
ketika itu dan dia mengqoshor
shalat yang empat raka’at
(seperti shalat Zhuhur) menjadi
dua raka’at.”[Majmu’ Fatawa
Ibnu Baz, Mawqi’ Al Ifta’,
12/243].
31. Shalat diatas kendaraan
ketika dalam perjalanan.
Dari Jabir bin ’Abdillah, beliau
mengatakan,
ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ –
ﻳُﺼَﻠِّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺍﺣِﻠَﺘِﻪِ ﺣَﻴْﺚُ ﺗَﻮَﺟَّﻬَﺖْ ، ﻓَﺈِﺫَﺍ
ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟْﻔَﺮِﻳﻀَﺔَ ﻧَﺰَﻝَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻘْﺒَﻞَ ﺍﻟْﻘِﺒْﻠَﺔَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah melaksanakan
shalat sunnah di atas
kendaraannya sesuai dengan
arah kendaraannya. Namun jika
ingin melaksanakan shalat
fardhu, beliau turun dari
kendaraan dan menghadap
kiblat.”[HR. Bukhari no. 400].
Akan tetapi jika seseorang
berada di mobil, pesawat, kereta
api atau kendaraan lainnya, lalu
musafir tersebut tidak mampu
melaksanakan shalat dengan
menghadap kiblat dan tidak
mampu berdiri, maka dia boleh
melaksanakan shalat fardhu di
atas kendaraannya dengan dua
syarat,
– Khawatir akan keluar waktu
shalat sebelum sampai di tempat
tujuan. Namun jika bisa turun
dari kendaraan sebelum keluar
waktu shalat, maka lebih baik
menunggu. Kemudian jika sudah
turun, dia langsung mengerjakan
shalat fardhu.
– Jika tidak mampu turun dari
kendaraan untuk melaksanakan
shalat. Namun jika mampu turun
dari kendaraan untuk
melaksanakan shalat fardhu,
maka wajib melaksanakan shalat
fardhu dengan kondisi turun dari
kendaraan.
Jika memang kedua syarat ini
terpenuhi, boleh seorang musafir
melaksanakan shalat di atas
kendaraan.[Lihat pembahasan
shalat di mobil dan pesawat di
Fatawa Al Islam Sual wa Jawab
no. 21869 pada link http://
http://www.islamqa.com/ar/ref/21869%5D.
32. Shalat witir dan Shalat
Sunnah Shubuh (qabliyah
shubuh) selama safar.
Shalat witir adalah sunnah yang
ditekankan sekali. Oleh sebab itu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak pernah
meninggalkan shalat sunnah witir
dengan sunnah Shubuh ketika
bermukim atau ketika bepergian.
[Lihat Zaadul Ma’aad, I : 315 dan
Al-Mughni, III : 196, dan II : 240].
33. Mengucapkan takbir
ketika mendaki.
ﻋَﻦْ ﺟَﺎﺑِﺮٍ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ
ﻗَﺎﻝَ : ﻛُﻨَّﺎ ﺇﺫَﺍ ﺻَﻌِﺪْﻧَﺎ ﻛَﺒَّﺮْﻧَﺎ ﻭَ ﺇﺫَﺍ ﻧَﺰَﻟْﻨَﺎ
ﺳَﺒَّﺤْﻨَﺎ
Dari Jabir bin Abdillah
Radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata,”Kami bertakbir, jika
menaiki (tempat yang tinggi), dan
bertasbih manakala kami
menuruni lembah.” [HR Al
Bukhari. Syaikh Salim bin Id Al
Hilali berkata,”Dikeluarkan oleh
Bukhari (6/135-Fathul Bari).”
Lihat Bahjatun Nazhirin (2/214)].
34. Mengucapkan Tasbih
ketika turun.
Dalilnya sudah disebutkan
sebelumnya.
35. Berdzikir ketika melihat
kebesaran Allah.
Karena di gunung banyak sekali
kami melihat kebesaran Allah
yang belum pernah kami lihat
sebelumnya atau tidak kami lihat
di tempat tinggal kami.
Rasulullah ShallallaHu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “tidaklah
seorang musafir di dalam
perjalanannya berkhalwat
dengan Allah dan berdzikir
kepada-Nya, melainkan ia akan
disertai oleh Malaikat dan
tidaklah ia mengisi perjalannya
dengan syair dan sebagainya,
melainkan syaithan akan
menyertainya.” [HR: Ath
Thabrani dalam kitab al Kabir
895/17.Lihat Shahihul Jami 5706].
Lafazh “Subhanallah” dapat kita
ucapkan ketika kita sedang
takjub dengan kebesaran ciptaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala [HR.
Bukhari].
Lafadz “Allahu Akbar” juga
sunnah diucapkan ketika melihat
sesuatu yang menakjubkan dari
ciptaan Allah [HR. Bukhari dalam
al-Fath].
Seorang yang terkejut
disunnahkan untuk
mengucapkan lafadz “Laa ilah
illallah”. [HR. Bukhari dalam
Fathul Baari VI/181 dan Muslim
IV/22208].
Lafadz “Masya Allah” bisa
diucapkan ketika kita takjub
melihat kelebihan yang dimiliki
oleh orang lain, baik berupa
harta, kondisi fisik atau yang
lainnya. Dalam surat Al Kahfi,
terdapat tambahan, “Masya
Allah laa quwwata illa billah”
36. Olahraga agar tubuh kuat
dan sehat.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah
ShallallaHu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Mukmin yang kuat
lebih baik dan lebih dicintai oleh
Allah daripada mukmin yang
lemah dan keduanya memiliki
kebaikkan.” [Shahih Muslim,
kitab al Qadar, bab al Iimaan bin
Qadar wa idzan lahu no. 2664.
Dikeluarkan juga pada Sunan
Ibni Majah, al Muqaddimah, bab
fil Iimaan no. 79].
37. Memperbanyak jalan kaki.
Dalam keseharian, bila
perjalanan jarak pendek,
Rasulullah selalu berjalan kaki,
yaitu dari rumah ke masjid, dari
masjid ke pasar dan dari pasar
ke rumah-rumah sahabat.
Bahkan beliau berjalan kaki
ketika mengunjungi makam
pahlawan di Baqi sekitar tiga
kilometer dari pusat kota
Madinah, baik pada waktu terik
matahari maupun malam. Beliau
tidak suka hidup manja. Sebab
ketika berjalan kaki keringat
mengalir di sekjur badan, pori-
pori kulit terbuka dan peredaran
darah berjalan nomal sehingga
terhindar dari penyakit jantung.
Ingatlah mencegah itu lebih baik
daripada mengobati.
Ulama salaf mengajarkan,
“Seseorang hendaknya menjaga
tiga hal pada dirinya: Jangan
sampai tidak berjalan kaki, agar
jika suatu saat harus
melakukannya tidak akan
mengalami kesulitan; Jangan
sampai tidak makan, agar usus
tidak menyempit; dan jangan
sampai meninggalkan hubungan
seks, karena air sumur saja bila
tidak digunakan akan kering
sendiri. [Ath Thib An Nabawi,
Ibnu Qayyim Al Jauziyah].
38. Beristirahat di tengah
jalan.
Rasulullah ShallallaHu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Apabila kalian
tengah melintas tanah yang
subur, maka berilah bagian
kepada unta tunggangan untuk
makan dari rerumputan…”
39. Berkumpul ketika singgah
dan istirahat.
Dari Abu Tsa’labah Al Khusyani
Radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata,”Dahulu, jika para
sahabat singgah di suatu tempat,
mereka berpencar di bukit-bukit
dan lembah-lembah. Maka
Rasulullah
bersabda,’Sesungguhnya
berpencarnya kalian ke bukit-
bukit dan lembah-lembah
merupakan kehinaan bagi kalian
(dan itu berasal) dari syethan’.
Maka setelah kejadian itu,
mereka tidak singgah di suatu
tempat, kecuali mereka
bergabung satu sama
lainnya.”[Hadits shahih,
dikeluarkan oleh Abu Dawud
(2.627), Ahmad (4/193), Al Hakim
(2/115), Al Baihaqi (6/152), Ibnu
Majah (2.690)].
40. Membuat kemah yang jauh
dari jalanan.
ﻋَﻦْ ﺃﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ
ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ )) ﺇﺫَﺍ
ﺳَﺎﻓَﺮْﺗُﻢْ ﻓِﻲْ ﺍﻟﺨِﺼْﺐِ ﻓَﺄﻋْﻄُﻮْﺍ ﺍﻹﺑِﻞَ ﺣَﻈَّﻪُ
ﻣِﻦَ ﺍﻷﺭْﺽِ ، ﻭَ ﺇﺫَﺍ ﺳَﺎﻓَﺮْﺗُﻢْ ﻓﻲ ﺍﻟﺠَﺪْﺏِ
ﻓَﺄﺳْﺮِﻋُﻮﺍْ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺍﻟﺴَّﻴْﺮَ ﻭَ ﺑَﺎﺩِﺭُﻭﺍ ﺑِﻬَﺎ ﻧِﻘْﻴَﻬَﺎ ﻭَ
ﺇﺫَﺍ ﻋَﺮَّﺳْﺘُﻢْ ﻓَﺎﺟْﺘَﻨِﺒُﻮْﺍ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳْﻖَ ﻓَﺈﻧَّﻬَﺎ ﻃُﺮُﻕَ
ﺍﻟﺪَّﻭَﺍﺏِ ﻭَ ﻣَﺄﻭَﻯ ﺍﻟﻬَﻮَﺍﻡِّ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu, ia berkata, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa salam
bersabda,”Jika kalian bepergian
dan melewati daerah padang
rumput, maka berikanlah unta
haknya dari (rumput yang
tumbuh di) tanah tersebut. Dan
jika kalian melewati daerah
tandus, maka percepatlah
langkah kalian. Dan jika kalian
hendak bermalam, maka
janganlah bermalam di jalan,
karena ia merupakan tempat
lewat hewan dan tempat tinggal
serangga pada malam hari.”[HR
Muslim. Syaikh Salim bin Id Al
Hilali berkata,”Dikeluarkan oleh
Muslim (1927).” Lihat Bahjatun
Nazhirin (2/203)].
41. Saling bekerja sama dan
membantu antara sesama
pendaki.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
salam bersabda,”Barangsiapa
yang memiliki kelebihan tempat,
hendaklah ia menyilahkannya
bagi orang yang tidak
mempunyai tempat. Barangsiapa
yang memiliki kelebihan bekal,
hendaklah ia menyilahkan
kepada orang yang tidak
memiliki bekal.” [HR: Muslim,
1728, dari Abu Sa’id radhiyallahu
anhu].
42. Membaca doa-doa atau
dzikir ketika hendak tidur dan
setelah bangun tidur.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu berkata,
ﻭَﻛَّﻠَﻨِﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
– ﺑِﺤِﻔْﻆِ ﺯَﻛَﺎﺓِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ، ﻓَﺄَﺗَﺎﻧِﻰ ﺁﺕٍ ،
ﻓَﺠَﻌَﻞَ ﻳَﺤْﺜُﻮ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ، ﻓَﺄَﺧَﺬْﺗُﻪُ ﻓَﻘُﻠْﺖُ
ﻷَﺭْﻓَﻌَﻨَّﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ . – ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻭَﻳْﺖَ
ﺇِﻟَﻰ ﻓِﺮَﺍﺷِﻚَ ﻓَﺎﻗْﺮَﺃْ ﺁﻳَﺔَ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻰِّ ﻟَﻦْ ﻳَﺰَﺍﻝَ
ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﺎﻓِﻆٌ ، ﻭَﻻَ ﻳَﻘْﺮَﺑُﻚَ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ
ﺣَﺘَّﻰ ﺗُﺼْﺒِﺢَ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ » – ﺻَﺪَﻗَﻚَ ﻭَﻫْﻮَ ﻛَﺬُﻭﺏٌ ،
ﺫَﺍﻙَ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam menugaskan aku
menjaga harta zakat Ramadhan
kemudian ada orang yang
datang mencuri makanan namun
aku merebutnya kembali, lalu
aku katakan, “Aku pasti akan
mengadukan kamu kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam“. Lalu Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu menceritakan
suatu hadits berkenaan masalah
ini. Selanjutnya orang yang
datang kepadanya tadi berkata,
“Jika kamu hendak berbaring di
atas tempat tidurmu, bacalah
ayat Al Kursi karena dengannya
kamu selalu dijaga oleh Allah
Ta’ala dan syetan tidak akan
dapat mendekatimu sampai
pagi“. Maka Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda,
“Benar apa yang dikatakannya
padahal dia itu pendusta. Dia itu
syetan“. [HR. Bukhari no. 3275].
43. Makan secara berjama’ah/
bersama-sama.
Dari Wahsyi bin Harb dari
bapaknya dari kakeknya,
“Sesungguhnya para sahabat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam pernah mengadu, wahai
Rasulullah sesungguhnya kami
makan namun tidak merasa
kenyang. Nabi bersabda,
“Mungkin kalian makan sendiri-
sendiri?” “Betul”, kata para
sahabat. Nabi lantas bersabda,
“Makanlah bersama-sama dan
sebutlah nama Allah sebelumnya
tentu makanan tersebut akan
diberkahi.” [HR Abu Dawud no.
3764 dan dinilai shahih oleh al-
Albani].
44. Tidak mengeluh dan putus
asa selama dalam perjalanan.
Dalam Shahih al Bukhari, dari
Anas Radhiyallahu ‘anhu, Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
ﻻَ ﻋَﺪْﻭَﻯ ﻭَﻻَ ﻃِﻴَﺮَﺓَ ﻭَﻳُﻌْﺠِﺒُﻨِﻲ ﺍﻟْﻔَﺄْﻝُ ﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺔُ
ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔُ
Tidak ada penyakit yang menular
sendiri, dan tidak ada kesialan.
Optimisme (yaitu) kata-kata yang
baik membuatku kagum.[HR al
Bukhari (10/181) dan Muslim
(2224)].
Al Hulaimi rahimahullah
mengatakan: “Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam suka dengan
optimisme, karena pesimis
merupakan cermin persangkaan
buruk kepada Allah l tanpa
alasan yang jelas. Optimisme
diperintahkan dan merupakan
wujud persangkaan yang baik.
Seorang mukmin diperintahkan
untuk berprasangka baik kepada
Allah dalam setiap kondisi”.
[Fathu al Bari (10/226)].
45. Menjaga kebersihan
selama perjalanan.
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Sesungguhnya
Allah Maha Indah dan mencintai
keindahan, kesombongan itu
adalah menolak kebenaran dan
merendahkan orang lain”[HR
Muslim (no. 91)].
46. Mengucapkan salam jika
saling bertemu.
Dari Abdullah bin Amr –
radhiallahu anhu- dia berkata:
Ada seseorang yang bertanya
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam, “Islam apakah yang
paling baik?” Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam menjawab:
ﺗُﻄْﻌِﻢُ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺗَﻘْﺮَﺃُ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ
ﻋَﺮَﻓْﺖَ ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﺗَﻌْﺮِﻑْ
“Kamu memberi makan,
mengucapkan salam kepada
orang yang kamu kenal dan
yang tidak kamu kenal”. [HR. Al-
Bukhari no. 11, 27 dan Muslim
no. 39].
47. Menyingkirkan rintangan
di jalan sesuai dengan
kemampuan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, ia berkata, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
ﻛُﻞُّ ﺳُﻼَﻣَﻰ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻛُﻞَّ
ﻳَﻮْﻡٍ ﺗَﻄْﻠُﻊُ ﻓِﻴْﻪِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ، ﺗَﻌْﺪِﻝُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﺛْﻨَﻴْﻦِ
ﺻَﺪَﻗَﺔٌ، ﻭَﺗُﻌِﻴْﻦُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻓِﻲ ﺩَﺍﺑَّﺘِﻪِ ﻓَﺘَﺤْﻤِﻠُﻪُ
ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺃَﻭْ ﺗَﺮْﻓَﻊُ ﻟَﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﻣَﺘَﺎﻋَﻪُ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ،
ﻭَﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟﻄَّﻴِّﺒَﺔُ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ، ﻭَﺑِﻜُﻞِّ ﺧُﻄْﻮَﺓٍ
ﺗََﻤْﺸِﻴْﻬَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓِ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ، ﻭَﺗُﻤِﻴْﻂُ ﺍﻷَﺫَﻯ
ﻋَﻦِ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳْﻖِ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ
“Setiap persendian manusia
diwajibkan untuk bersedakah
setiap harinya mulai matahari
terbit. Memisahkan
(menyelesaikan perkara) antara
dua orang (yang berselisih)
adalah sedekah. Menolong
seseorang naik ke atas
kendaraannya atau mengangkat
barang-barangnya ke atas
kendaraannya adalah sedekah.
Berkata yang baik juga termasuk
sedekah. Begitu pula setiap
langkah berjalan untuk
menunaikan shalat adalah
sedekah. Serta menyingkirkan
suatu rintangan dari jalan adalah
shadaqah ”. [HR. Bukhari dan
Muslim].
48. Saling memberi nasehat
atau beramar ma’ruf nahi
munkar selama perjalanan,
seperti mengajak teman kita
untuk shalat atau melarang
merokok, dsb.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺧَﻴْﺮَ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺃُﺧْﺮِﺟَﺖْ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺗَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ
ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﺗَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ
ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ
“Kamu adalah umat yang terbaik
yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma’ruf,
dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada
Allah.” (QS. Ali Imron: 110)
Sebagian ulama salaf
mengatakan, “Mereka bisa
menjadi umat terbaik jika mereka
memenuhi syarat (yang
disebutkan dalam ayat di atas).
Siapa saja yang tidak memenuhi
syarat di atas, maka dia
bukanlah umat terbaik.”
49. Membawa hadiah ketika
pulang.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu
anhu, dan Nabi Shallallahu alaihi
wa sallam bersabda: “Saling
memberi hadiahlah kalian,
niscaya kalian saling mencinta”.
[HR Bukhari dalam Adabul
Mufrad, no. 594. Ibnu Hajar
berkata,”Sanadnya shahih”].
50. Bersegera pulang jika
urusan telah selesai.
ﻋَﻦْ ﺃﺑِﻲْ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺃﻥَّ ﺭَﺳُﻮْﻝَ
ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ )) ﺍﻟﺴَّﻔَﺮُ
ﻗِﻄْﻌَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻌَﺬَﺍﺏِ ﻳَﻤْﻨَﻊُ ﺃﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻃَﻌَﺎﻣَﻪُ ﻭَ
ﺷَﺮَﺍﺑَﻪُ ﻭَ ﻧَﻮْﻣَﻪُ ﻓَﺈﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺃﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻧَﻬْﻤَﺘَﻪُ
ﻣِﻦْ ﺳَﻔَﺮِﻩِ ﻓَﻠﻴُﻌَﺠِّﻞِ ﺇﻟﻰ ﺃﻫْﻠِﻪِ )).
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu, sesungguhnya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,”Safar (perjalanan)
adalah bagian dari adzab yang
mencegah salah seorang kalian
dari makan, minum dan tidur.
Maka bila salah seorang kalian
telah mencapai maksud dari
perjalanannya, hendaklah segera
kembali kepada
keluarganya.” [Mutaffaqun
‘alaih, dan Syaikh Salim
berkata,”Dikeluarkan oleh
Bukhari (3/262-Fathul Bari) dan
Muslim (1.927).” Lihat Bahjatun
Nazhirin (2/220)].
51. Memberi kabar ketika
hendak pulang kepada orang
yang ditinggalkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Pelan-
pelanlah, jangan tergesa-gesa
(untuk masuk ke rumah kalian)
hingga kalian masuk di waktu
malam –yakni waktu Isya’– agar
para istri yang ditinggalkan
sempat menyisir rambutnya yang
acak-acakan/kusut dan sempat
beristihdad (mencukur rambut
kemaluan). ” [HR. Al-Bukhari no.
5245 dan Muslim].
52. Menghindari pulang
malam-malam ketika sampai
rumah.
Dari Jabir, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺃَﻥْ
ﻳَﻄْﺮُﻕَ ﺃَﻫْﻠَﻪُ ﻟَﻴْﻼً
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam melarang seseorang
untuk pulang dari bepergian lalu
menemui keluarganya pada
malam hari.”[HR. Bukhari no.
1801].
Dari Anas bin Malik, beliau
mengatakan,
ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ –
ﻛَﺎﻥَ ﻻَ ﻳَﻄْﺮُﻕُ ﺃَﻫْﻠَﻪُ ﻟَﻴْﻼً ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﺄْﺗِﻴﻬِﻢْ
ﻏُﺪْﻭَﺓً ﺃَﻭْ ﻋَﺸِﻴَّﺔً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam biasa tidak pulang dari
bepergian lalu menemui
keluarganya pada malam hari.
Beliau biasanya datang dari
bepergian pada pagi atau sore
hari.”[HR. Bukhari no. 1800 dan
Muslim no. 1928].
53. Membaca doa ketika
kembali dari safar.
Do’a ketika kembali dari safar
sama dengan do’a ketika hendak
pergi safar. Dan ditambahkan
membaca,
ﺁﻳِﺒُﻮﻥَ ﺗَﺎﺋِﺒُﻮﻥَ ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻟِﺮَﺑِّﻨَﺎ ﺣَﺎﻣِﺪُﻭﻥَ
“Aayibuuna taa-ibuuna
‘aabiduun. Lirobbinaa
haamiduun (Kami kembali
dengan bertaubat, tetap
beribadah dan selalu memuji
Rabb kami).”[HR. Muslim no.
1342, dari ‘Abdullah bin ‘Umar].
54. Shalat dua rakaat di masjid
ketika tiba dari safar.
Dari Ka’ab, beliau mengatakan,
ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻥَ
ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺪِﻡَ ﻣِﻦْ ﺳَﻔَﺮٍ ﺿُﺤًﻰ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪَ ،
ﻓَﺼَﻠَّﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﻠِﺲَ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam jika tiba dari safar pada
waktu Dhuha, beliau memasuki
masjid kemudian beliau
melaksanakan shalat dua raka’at
sebelum beliau duduk.”[HR.
Bukhari no. 3088].
Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau
mengatakan, “Aku pernah
bersama Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam dalam safar. Tatkala
kami tiba di Madinah, beliau
mengatakan padaku,
ﺍﺩْﺧُﻞِ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪَ ﻓَﺼَﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ
“Masukilah masjid dan
lakukanlah shalat dua
raka’at.”[HR. Bukhari no. 3087].
55. Saling berpelukan ketika
tiba dari safar.
Aisyah berkata: “Zaid bin
Haritsah baru tiba dari Madinah
dan Rasulullah sedang berada
dalam rumahku. Dia datang dan
mengetuk pintu, mendengar itu
rasulullah bangkit dengan segera
sambil mengangkat bajunya.
Beliau memeluknya dan
menciumnya. [HR.Tirmidzi :
2732].
Asy-Sya’bi berkata: “Adalah para
sahabat rasulullah apabila tiba
dari safar mereka saling
berpelukan”.
BEKAL YANG HARUS DIMILIKI
OLEH PENDAKI :
1. Bekal Rohani:
– Bertaqwa kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala.
– Mendapat izin dan ridha dari
orangtua (bagi yang masih
memiliki orangtua).
– Ikhlas dan bukan melakukan
safar/perjalanan yang bid’ah
atau terlarang.
– Melaksanakan segala kewajiban
dan tidak meninggalkannya baik
dalam masalah agama ibadah
dan lainnya, seperti shalat yang 5
waktu, dsb.
– Meninggalkan dan menjauhi
segala perbuatan maksiat.
– Wajib mentaati pemimpin,
kecuali jika disuruh bermaksiat.
– Saling tolong menolong dan
meringankan beban sahabatnya.
– Menghindari sifat egois
(mengutamakan diri sendiri) dan
rasa malas.
– Tidak boleh takabbur atau
sombong dan meremehkan
segala sesuatu.
– Memperbanyak berdzikir,
khususnya dzikir-dzikir yang
dianjurkan.
– memperbanyak berdoa, karena
doa seorang musafir adalah
mustajab.
– Menyingkirkan segala
gangguan di jalan.
– Qana’ah, yaitu menerima apa
adanya.
– Hemat dalam segala kondisi.
– Memiliki sifat tawakkal kepada
Allah, dan tidak boleh putus asa.

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s