Diriwayatkan dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dengan menceritakan dari Tuhannya yaitu Allah ta’ala (hadits qudsi), “Setiap anak adam yang mengerjakan amal kebajikan, maka pahala untuknya akan dilipat gandakan mulai dari sepuluh hingga 700 kali kelipatan kecuali pahala ibadah puasa, sesungguhnya puasa adalah untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Ulama’ saling beda pendapat dalam penafsiran “Sesungguhnya puasa adalah untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya” yang mana sesungguhnya setiap amal baik maka Allahlah sendirilah yang akan memberikan pahala.
Pendapat pertama: sesungguhnya di dalam puasa tidak akan terjadi riya’ seperti halnya terjadi pada selainnya. Riya’ bisa terjadi pada (ibadah lahiriah) anak adam sedangkan puasa adalah sesuatu ibadah di dalam hati (batin). Hal tsb di dasarkan bahwa setiap ibadah bertumpu pada gerakan anggota tubuh lahir dan sedangkan puasa bertumpu pada niat yang samar dari penglihatan manusia.
Pendapat kedua, sesungguhnya yang dimaksud dari hadits qudsi di atas, bahwa hanya Allah sajalah yang mengetahui akan kadar dan pelipat gandaan pahala puasa. Sedang ibadah-ibadah selain puasa maka terkadang orang lain bisa mengetahui tentang kadar pahalanya.
Pendapat ketiga, hadits qudsi tsb menunjukkan bahwa puasa adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah.
Pendapat keempat, penyandaran kepada Allah adalah sebuah penyandaran kemuliaan dan besarnya pelipat gandaan, seperti dalam lafadz baitullah.
Pendapat kelima, bahwa sebenarnya tidak butuh terhadap makanan atau selainnya yang masuk pada kategori syahwat merupakan sifat ketuhanan, maka ketika seorang yang berpuasa mendekatkan diri pada Allah dengan menetapi sifat-sifat ketuhanan berarti dia menyandarkan dirinya pada Allah.
Pendapat keenam, hampir sama dengan pendapat kelima hanya saja penyandaran ketidak butuhan makanan tidak disandarkan pada Allah, melainkan disandarkan pada sifat-sifatnya malaikat.
Pendapat ketujuh, kesemuanya ibadah bisa saja dilakukan orang yang sewenang-wenang kecuali puasa.
Dan para ulama’ akhirnya sepakat bahwa makna dari hadits qudsi itu menunjukkan tentang puasanya seseorang yang selamat ditilik dari segi ucapan maupun perbuatannya. (MIFTAHUS SHALAT)
Diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda, “Barangsiapa menegakkan ramadhan dengan didasari oleh keyakinan dan ikhlas karena Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”
Kebenaran bagi Rasulullah dalam setiap ajaran yang dibawanya

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

One response »

  1. Asep Sunandar mengatakan:

    ustad klo gt puasa ga berarti naan akan dan inu kan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s