Anda tentu pernah mendengar
bahwa tahun kelahiran Nabi
Muhammad SAW dikenal juga
dengan “Tahun Gajah”. Sebuah
Istilah yang terkait dengan aksi
penyerangan terhadap Makkah
oleh Abrahah, penguasa Ethiopia
di daerah Yaman. Kisah ini
dimulai dengan ambisi Abrahah
untuk membangun sebuah
Gereja Besar di kota Shan’a.
Sebuah bangunan yang tak
tertandingi kemegahannya pada
saat itu. Abrahah sendiri
memberi nama Gereja itu
“Qullais”. Pendirian bangunan ini
ternyata bertujuan untuk
mengalihkan perhatian orang-
orang arab dari Ka’bah yang
sudah mereka muliakan selama
berabad-abad. Dari surat yang
dikirimkan Abrahah kepada Raja
Ethiopia (Habasyah) diketahui
bahwa Abrahah berharap Qullais
bisa mengalahkan pengaruh
Ka’bah pada jaman itu. Ketika
mendengar hal itu, seorang
diantara kabilah Bani Fuqaim bin
‘Adiy bin ‘Amir bin Tsa’labah bin
Al-Harits bin Malik bin Kinanah
bin Khuzaimah bin Mudrikah bin
Ilyas bin Mudhar tidak dapat
menahan amarahnya. Secara
diam-diam orang tersebut masuk
ke dalam Qullais lalu buang air
besar didalamnya dan mengotori
bagian penting bangunan itu
dengan tinja. Ketika Abrahah
mendengar peristiwa itu dia
marah besar dan bersumpah
akan menghancurkan ka’bah. Ia
menyiapkan sebuah pasukan
besar diperkuat oleh beberapa
puluh ekor gajah lalu berangkat
sendiri memimpin pasukannya
menuju Makkah. Dalam
Perjalanan menuju Makkah,
Abrahah mendapatkan
perlawanan dari Pasukan Dzu
Nafar dan pasukan lain dibawah
pimpinan Nufail bin Hudaib
namun semuanya dapat
dipatahkan dan keduanya
berhasil ditawan oleh Abrahah
dan dijadikan penunjuk jalan
menuju ke Makkah. Sesampainya
di daerah Al- Mughammis,
Abrahah mengutus Al- Aswad
bin Maqshud berangkat ke
Makkah. Dalam melaksanakan
tugas ini mereka merampas
kekayaan penduduk Tihamah
(orang-orang Qurays dan lain-
lain), termasuk 200 ekor Unta
milik Abdul Mutthalib bin Hasyim
(Kakek Nabi Muhammad SAW)
yang ketika itu berkedudukan
sebagai tokoh pimpinan Qurays.
Kabilah-kabilah di sekitar
Makkah bangkit hendak
melakukan perlawanan, namun
setelah menyadari kekuatan
mereka tak seimbang akhirnya
mereka mengurungkan niatnya.
Sesampainya di Makkah,
Abrahah mengutus Hunathah al
Hymyariy untuk memberitahu
pesan Abrahah : Bahwa Abrahah
tidak datang bermaksud
memerangi penduduk Mekkah,
Melainkan hendak
menghancurkan Ka’bah. Apabila
mereka tidak melawan maka
Abrahah tidak akan
menumpahkan darah mereka.
Kalau pemimpin Mekkah benar-
benar tidak akan memerangi
Abrahah, sebaiknya datang
menghadap. Setelah mengetahui
bahwa pemimpin Mekkah adalah
Abdul Mutthalib, Hunathah
segera menemuinya dan
menyampaikan pesan itu. Abdul
Muthallib menjawab: “ Kami
tidak berniat memerangi
Abrahah karena kami tidak
punya kekuatan untuk itu.
Rumah Suci itu (Ka’bah) adalah
milik Allah yang dibangun oleh
Nabi Ibrahim alaihissalam. Jika
Allah hendak mencegah
penghancuran yang hendak
dilakukan oleh Abrahah itu
adalah urusan Pemilik rumah
suci itu, tetapi jika Allah hendak
membiarkan Rumah sucinya itu
dihancurkan orang maka kami
tidak sanggup
mempertahankannya”.
Mendengar jawaban seperti itu,
Hunathah kemudian mengajak
Abdul Mutthalib menemui
Abrahah. Abdul Mutthalib
disambut ramah oleh Abrahah.
Melalui penterjemahnya
Abrahah bertanya mengenai
keperluan Abdul mutholib.
Abdul mutthalib mengatakan
bahwa ia datang hendak
menuntut pengembalian 200
ekor untanya yang dirampas
pasukan Abrahah. Abrahah
heran dan kembali bertanya:”
sebenarnya aku kagum melihat
anda, tetapi kekagumanku itu
hilang samasekali setelah tuan
berbicara mengenai unta.
Apakah patut orang seperti tuan
lebih mengutamakan
pembicaraan mengenai
pengembalian unta yang telah
kurampas daripada berbicara
mengenai Ka’bah yang menjadi
Syiar agama tuan dan agama
nenek moyang tuan. Aku datang
untuk menghancurkannya tetapi
tuan tidak berbicara mengenai
itu”. Abdul Mutthalib
menjawab:” Akulah yang
mempunyai untaunta itu,
sedangkan Ka’bah mempunyai
Pemiliknya sendiri yang akan
mencegah dan
mempertahankannya”. Abrahah
menantang:” Tidak ada sesuatu
yang dapat mencegah
kemauanku”. Abdul Mutthalib
menjawab:” Silakan tuan
lakukan…” Setelah mendapatkan
kembali unta-untanya, Abdul
Mutthalib kembali ke Makkah
dan meminta semua penduduk
Makkah untuk pergi berlindung
ke pegunungan guna
menghindari aksi kekejaman
Pasukan Abrahah. Sebelum
keluar meninggalkan Mekkah,
Abdul Mutthalib menghampiri
Ka’bah dan sambil berpegang
pada gelangan besi pintunya ia
berdo’a bersama beberapa
orang Qurays lainya, mohon
kepada Allah supaya melindungi
keselamatan Ka’bah. Setelah itu
mereka pergi mengungsi ke
pegunungan menunggu apa
yang hendak dilakukan Abrahah
pada saat memasuki kota
tersebut. Keesokan harinya,
Abrahah sudah siap siaga
bersama pasukannya. Abrahah
menunggang gajah
kesayangannya yang diberi nama
“Mahmud”. Ketika semuanya
sudah siap, Nufail bin Hudaib
membisikkan pada telinga
Mahmud :” Hai Mahmud,
bersimpuhlah. Atau pulang
kembali ke tempat asalmu
(Yaman). Ketahuilah bahwa
engkau sekarang berada di
tanah suci”. Sesaat setelah Nufail
pergi, Mahmud bersimpuh dan
tidak mau berdiri jika
dihadapkan ke arah Ka’bah.
Begitu juga gajah-gajah yang lain.
Meski mereka dipukul tetap
tidak mau berdiri kecuali jika
dihadapkan ke arah Yaman
mereka langsung bangkit dan
berlari. Dalam keadaan yang
membingungkan itu Allah
mengirimkan ribuan burung kecil
yang membawa tiga buah batu
sebesar biji gandum, satu buah
di paruhnya dan dua buah di
kedua kakinya. Ternyata batu itu
berhasil membinasakan bagi
siapa saja yang tertimpa bati itu.
Mereka yang selamat lari
tunggang langgang mencari jalan
untuk pulang ke Yaman,
sementara Abrahah termasuk
yang terkena batu tersebut dan
meninggal dengan
mengenaskan. Jari-jari tangan
dan kakinya rontok dan
mengeluarkan darah dan nanah
dari kepalanya. Abrahah dibawa
pulang oleh pasukannya yang
tersisa. Berdasarkan riwayat yang
berasal dari Ya’kub bin Utbah,
Ibnu Ishaq mengatakan, pada
tahun itu pertama kali di negeri
arab terjadi wabah penyakit
Morbili dan cacar basah. Setelah
Muhammad SAW diangkat
menjadi Rosul, peristiwa ini
diabadikan kembali oleh Allah
SWT dalam Qur’an Surat Al-Fiil.
Saat penyerangan inilah Aminah
binti Abdul Wahab melahirkan
Muhammad SAW ketika akan
mengungsi. Beberapa
Peristiwa lain menjelang
kelahiran Muhammad SAW
Pada malam kelahiran
Muhammad SAW tampak
berbagai tanda-tanda luar biasa.
Diantara kejadian itu adalah:
– Bumi digoncang gempa hingga
berhala yang terpancang diatas
Ka’bah runtuh bergelimpangan.
– Beberapa buah Gereja dan
Biara runtuh
– Istana Kisra di Persia retak dan
roboh
– Disusul oleh padamnya api
sesembahan kaum majusi di
Persia. Dengan padamnya api
sesembahan mereka yang tidak
pernah terjadi sebelumnya ini
mereka cemas dan sedih,
semuanya menduga bahwa
semua tanda yang mereka
saksikan itu pasti menunjukkan
peristiwa besar di dunia.
(Sumber: Al Hamid al Husaini,
1992, Riwayat Kehidupan Nabi
Besar Muhammad SAW, Yayasan
al Hamidiy, Jakarta)

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s