Sayyidina Umar bin Khattab
bercerita, suatu hari seorang
laki-laki datang menemui
Rasulullah SAW untuk
meminta-minta, lalu beliau
memberinya. Keesokan
harinya, laki-laki itu datang
lagi, Rasulullah juga
memberinya. Keesokan
harinya, datang lagi dan
kembali meminta, Rasulullah
pun memberinya. Keesokan
harinya, ia datang kembali
untuk meminta-minta,
Rasulullah lalu bersabda,
“Aku tidak mempunyai apa-
apa saat ini. Tapi, ambillah
yang kau mau dan jadikan
sebagai utangku. Kalau aku
mempunyai sesuatu kelak,
aku yang akan
membayarnya.”
Umar lalu berkata, “Wahai
Rasulullah janganlah
memberi diluar batas
kemampuanmu.” Rasulullah
tidak menyukai perkataan
Umar tadi. Tiba-tiba, datang
seorang laki-laki dari Anshar
sambil berkata, “Ya
Rasulullah, jangan takut,
terus saja berinfak. Jangan
khawatir dengan
kemiskinan.” Mendengar
ucapan laki-laki tadi,
Rasulullah tersenyum, lalu
beliau berkata kepada
Umar, “Ucapan itulah yang
diperintahkan oleh Allah
kepadaku.” (HR Turmudzi).
Jubair bin Muth’im bertutur,
ketika ia bersama Rasulullah
SAW, tiba-tiba orang-orang
mencegat beliau dan
meminta dengan setengah
memaksa sampai-sampai
beliau disudutkan ke sebuah
pohon berduri.
Kemudian salah seorang
dari mereka mengambil
mantelnya. Rasulullah
berhenti sejenak dan
berseru, ”Berikan mantelku
itu padaku! Itu untuk
menutup auratku.
Seandainya aku mempunyai
mantel banyak (lebih dari
satu), tentu akan kubagikan
pada kalian.” (HR. Bukhari)
Ummu Salamah, istri
Rasulullah SAW bercerita,
suatu hari Rasulullah masuk
ke rumahku dengan muka
pucat. Aku khawatir beliau
sedang sakit. “Ya Rasulullah,
mengapa wajahmu pucat
begini?” tanyaku.
Rasulullah menjawab, ”Aku
pucat begini bukan karena
sakit, melainkan karena aku
ingat uang tujuh dinar yang
kita dapat kemarin sampai
sore ini masih berada di
bawah kasur dan kita belum
menginfakkannya.” (HR Al-
Haitsami dan hadistnya
sahih).
Aisyah berkata, suatu hari,
ketika sakit, Rasulullah SAW
menyuruhku bersedekah
dengan uang tujuh dinar
yang disimpannya di rumah.
Setelah menyuruhku
bersedekah, beliau lalu
pingsan. Ketika sudah
siuman, Rasulullah bertanya
kembali: “Uang itu sudah
kau sedekahkan?”
“Belum, karena aku kemarin
sangat sibuk,” jawabku.
Rasulullah bersabda,
“Mengapa bisa begitu, ambil
uang itu!”
Begitu uang itu sudah di
hadapannya, Rasulullah lalu
bersabda, “Bagaimana
menurutmu seandainya aku
tiba-tiba meninggal,
sementara aku masih
mempunyai uang yang
belum kusedekahkan? Uang
ini tidak akan
menyelamatkan Muhammad
seandainya ia meninggal
sekarang, sementara ia
mempunyai uang yang
belum disedekahkan.” (HR
Ahmad).
Sahl bin Sa’ad bertutur,
suatu hari datang seorang
perempuan menghadiahkan
kepada Nabi Saw sepotong
syamlah yang ujungnya
ditenun (syamlah adalah
baju lapang yang menutup
seluruh badan). Perempuan
itu berkata, “Ya Rasulullah,
akulah yang menenun
syamlah ini dan aku hendak
menghadiahkannya kepada
Engkau.” Rasulullah pun
sangat menyukainya. Tanpa
banyak bicara, beliau
langsung mengambil dan
memakainya dengan sangat
gembira dan berterima kasih
kepada wanita itu.
Rasulullah betul-betul
sangat membutuhkan dan
menyukai syamlah tersebut.
Tidak lama setelah wanita itu
pergi, tiba-tiba datang
seorang laki-laki meminta
syamlah tersebut. Rasulullah
pun memberikannya. Para
sahabat yang lain lalu
mengecam laki-laki tersebut.
Mereka berkata, “Hai Fulan,
Rasulullah sangat menyukai
syamlah tersebut, mengapa
kau memintanya? Kau kan
tahu Rasulullah tidak pernah
tidak memberi kalau
diminta?” Laki-laki itu
menjawab, “Aku
memintanya bukan untuk
dipakai sebagai baju,
melainkan untuk kain
kafanku nanti kalau aku
meninggal.” Tidak lama
kemudian, laki-laki itu
meninggal dan syamlah
tersebut menjadi kain
kafannya. (HR Bukhari).
Beberapa kisah di atas
hanyalah sebutir jejak
kedermawanan Nabi
Muhammad SAW. Kisah-
kisah lainnya bagaikan
gunung pasir tertinggi yang
takkan pernah sanggup
diimbangi oleh siapapun,
termasuk para sahabat-
sahabat terdekatnya di masa
beliau masih hidup.
Sahabat-sahabat Rasulullah
hanya bisa meniru
kedermawanan yang
diajarkan Baginda Rasul itu,
yang kemudian menambah
panjang jejak sejarah
kedermawanan yang
dicontohkan Nabi dan para
sahabatnya.
Lihatlah Thalhah bin
Ubaidillah, seorang sahabat
yang kaya raya namun
pemurah dan dermawan.
“Sungai yang airnya
mengalir terus menerus
mengairi dataran dan
lembah” adalah lukisan
tentang kedermawanan
seorang Thalhah. Isterinya
bernama Su’da binti Auf.
Pada suatu hari isterinya
melihat Thalhah sedang
murung dan duduk
termenung sedih. Melihat
keadaan suaminya, sang
isteri segera menanyakan
penyebab kesedihannya dan
Thalhah mejawab, “Uang
yang ada di tanganku
sekarang ini begitu banyak
sehingga memusingkanku.
Apa yang harus kulakukan?”
Maka istrinya berkata,
“Uang yang ada di
tanganmu itu bagi-
bagikanlah kepada fakir
miskin.” Maka dibagi-
baginyalah seluruh uang
yang ada di tangan Thalhah
tanpa meninggalkan
sepeserpun.
Assaib bin Zaid berkata
tentang Thalhah, “Aku
berkawan dengan Thalhah
baik dalam perjalanan
maupun sewaktu bermukim.
Aku melihat tidak ada
seorangpun yang lebih
dermawan dari dia terhadap
kaum muslimin. Ia
mendermakan uang,
sandang dan pangannya.”
Jaabir bin Abdullah bertutur,
“Aku tidak pernah melihat
orang yang lebih dermawan
dari Thalhah walaupun
tanpa diminta.” Oleh karena
itu patutlah jika dia dijuluki
“Thalhah si dermawan”,
“Thalhah si pengalir harta”,
“Thalhah kebaikan dan
kebajikan”.
Sahabat lain yang mengukir
jejak indah kedermawanan
mencontoh Nabi adalah
Tsabit bin Dahdah yang
memiliki kebun yang bagus,
berisi 600 batang kurma
kualitas terbaik. Begitu turun
firman Allah, “Siapakah yang
mau meminjamkan kepada
Allah pinjaman yang baik,
maka Allah akan
melipatgandakan
(pembayaran) pinjaman itu
untuknya, dan dia akan
memperoleh pahala yang
banyak.” (Al-Hadid: 11). Dia
bergegas mendatangi
Rasulullah untuk bertanya,
“Ya Rasulullah, apakah Allah
ingin meminjam dari
hambanya?”
“Benar,” jawab Rasulullah.
Spontan Tsabit bin Dahdah
mengacungkan tangannya
seraya berkata, “Ulurkanlah
tangan Anda, wahai
Rasulullah.”
Rasulullah mengulurkan
tangannya, dan langsung
disambut oleh Tsabit bin
Dahdah sambil berkata,
“Aku menjadikan Anda
sebagai saksi bahwa
kupinjamkan kebunku
kepada Allah.”
Tsabit sangat gembira
dengan keputusannya itu.
Dalam perjalanan pulang dia
mampir ke kebunnya.
Dilihatnya isteri dan anak-
anaknya sedang bersantai di
bawah pepohonan yang
sarat dengan buah.
Dari pintu kebun,
Dipanggillah sang isteri, “Hai
Ummu Dahdah! Ummu
Dahdah! Cepat keluar dari
kebun ini, Aku sudah
meminjamkan kebun ini
kepada Allah!” Isterinya
menyambut dengan suka
cita, “Engkau tidak rugi,
suamiku, engkau beruntung,
engkau sungguh
beruntung!” Segera
dikeluarkannya kurma yang
ada di mulut anak-anaknya
seraya berkata, “Ayahmu
sudah meminjamkan kebun
ini kepada Allah.”
Ibnu Mas’ud menceritakan
bahwa Rasulullah bersabda,
“Berapa banyak pohon sarat
buah yang kulihat di surga
atas nama Abu Dahdah.”
Artinya, Allah memberi
Tsabit bin Dahdah pohon-
pohon yang berbuah lebat
di surga sebagai ganti atas
pemberiannya kepada-Nya
di dunia.
Indah nian jejak-jejak
kedermawanan Nabi
Muhammad SAW, lebih
indah lagi apa-apa yang
dijanjikan Allah atas apa
yang diberikan di jalan-Nya.
Karenanya, seluruh sahabat
pada masa itu berlomba-
lomba mengikuti jejak Nabi
dalam segala hal, termasuk
tentang kedermawanan.
Semoga, jejak
kedermawanan itu terus
terukir pada ummat
Muhammad hingga kini
selama kita masih terus
meleburkan diri pada rantai
jejak indah itu, dan
mengajarkannya kepada
anak-anak dan penerus
kehidupan ini.

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s