Suatu hari, Agung, seorang anak miskin berjalan sempoyongan dari rumah ke rumah, hanya untuk menjual suara serulingnya demi membiayai sekolahnya. Ia merasa sangat tersiksa oleh terik matahari. Kakinya melepuh menahan panas siang itu. Hasil serulingnya baru mendapat uang Rp.250 saja. Karena tak tahan lapar, ia memutuskan untuk meniup sulingnya dan minta makan di rumah berikutnya, namun segera hilang
keberaniannya ketika seorang gadis cantik membukakan pintu. Sebagai gantinya ia minta
air putih saja. Gadis itu melihat bahwa si anak kecil tampak kelaparan, ia lalu membawakannya makanan plus segelas
air. Anak itu pun
meminumnya perlahan-lahan. Usai makan dan minum, gadis tsb mengulurkan sepasang sandal.
“Nih sandal aku, kamu pake aja, biar kakimu gak melepuh lagi.” kata gadis itu. “Oh iya namaku maisaroh. Kelas 5 SD, kamu kelas berapa?
“Aku Agung kelas 1 tsanawiyah. Oh ya, Berapa harus kubayar makan, minum dan sepasang sandal jepit ini?” kata anak itu.
“Kau tidak harus membayar apa-apa,” jawab si gadis. “Ibu
melarangku menerima pembayaran atas kebaikan yang kulakukan.”
“Bila demikian, ku ucapkan terima kasih banyak dari lubuk hatiku.”
Agung lalu meninggalkan
rumah itu. Ia tidak saja lebih kuat badannya, tapi keyakinannya kepada Alloh dan kepercayaannya kepada sesama manusia menjadi semakin mantap. Sebelumnya ia telah
merasa putus asa dan hendak menyerah pada nasib.
Beberapa tahun kemudian maisaroh, si gadis itu menderita sakit parah. Para dokter setempat kebingungan sewaktu mendiagnosa penyakitnya. Mereka lalu mengirimnya ke kota besar dan mengundang
beberapa dokter ahli untuk mempelajari penyakit langka si
pasien. Dokter Agung akhirnya dipanggil ke ruang konsultasi untuk dimintai pendapat.
Ketika mendengar nama kota asal si pasien, terlihat pancaran aneh di mata Dokter Agung. Ia segera bangkit lalu berjalan di lorong rumah sakit dengan berpakaian dokter untuk menemui si pasien. Dokter Agung segera mengenali wanita sakit itu. Ya, itu adalah maisaroh, gadis yang memberinya sepasang sandal jepit. Ia lalu kembali ke ruang konsultasi dengan tekad untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak hari itu Dokter Agung memberikan perhatian khusus pada kasus si pasien. Setelah
dirawat cukup lama, akhirnya si pasien bisa disembuhkan. Dokter
Agung meminta kepada bagian administrasi agar tagihan rumah sakit diajukan kepadanya dahulu untuk disetujui sebelum diserahkan kepada si pasien.
Nota tagihan pun kemudian dikirimkan ke kantor Dokter Agung. Ia mengamati sejenak lalu
menuliskan sesuatu di
pinggirnya. Tagihan itu kemudian dikirimkan ke kamar pasien.
Si pasien takut membuka amplop nota tagihan karena yakin bahwa untuk dapat melunasinya ia harus menghabiskan sisa umurnya. Akhirnya, tagihan itu dibuka dan
pandangannya segera tertuju pada tulisan di pinggir tagihan itu:

Telah dibayar lunas dengan sepasang sandal jepitmu.
Tertanda
DR. Agung Syahputra (peniup seruling jalanan yang kakinya melepuh)

Air mata bahagia membanjiri mata si pasien. Ia berkata dalam
hati,“Terima kasih Alloh, cinta-Mu telah tersebar luas lewat hati dan tangan manusia.”

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s