Ada seorang laki-laki, pak nailul namanya, ia sudah lama menikah tapi belum juga mempunyai keturunan. Sudah bertahun-tahun ia ingin memiliki anak, tapi niatnya itu belum tercapai juga. Ia telah melakukan berbagai ikhtiar agar cita-citanya mempunyai anak dapat terwujud.
Berbagai nadzar telah ia ucapkan, namun tetap saja anak yang diidam-idamkan tak kunjung hadir. Entah karena putus asa atau karena nekad, suatu hari ia dengan kesal mengucapkan nadzar: “Seandainya aku dikaruniai anak oleh Allah, aku akan bersedekah kepada saudara-saudaranya syetan masing-masing 50 Ribu…!”
Wallahu a’lam, apakah karena nadzarnya itu ataukah sebab memang sudah menjadi kehendak Allah, tak lama kemudian istrinya hamil dan melahirkan seorang putra yang sehat dan tampan.
Betapa gembiranya hati pak nailul beserta istrinya dengan kehadiran anggota baru dalam keluarga mereka. Dengan penuh cinta dan kasih sayang mereka merawat putra mereka tersebut.
Pak nailul telah melupakan nadzar yang pernah ia ucapkan.
Pada suatu malam, bermimpi bertemu setan di dalam tidurnya. Setan berkata kepadanya, “Wahai Nailul, jangan lupakan nadzarmu untuk bersedekah kepada saudara-saudaraku!”
Pak nailul lantas bertanya kepada setan, “Siapakah saudara-saudaramu?”
Setan menjawab, “Carilah pezina, pemabuk, penjudi, pendurhaka kepada kedua orangtua dan orang yang bakhil lagi serakah karena mereka itulah saudara-saudaraku.”
Setelah terbangun dari tidurnya, tanpa berpikir panjang lagi langsung ia mengambil uangnya dan melangkah mencari saudara-saudaranya setan yang disebutkan dalam mimpi. Ia mencari diantara tetangganya, tetapi tak ia temukan. Akhirnya ia berjalan menuju desa sebelah.
Orang pertama yang ditemuinya adalah pezina. Ketika disodorkan uang sebanyak 50 Ribu, pezina itu keheranan dan bertanya,
“Dalam rangka apa engkau memberiku uang ini?”
Pak nailul lalu mengisahkan nadzar dan mimpinya. Mendengar cerita pak nailul, sang pezina langsung saja bersujud, menangis, dan bertaubat kepada Allah. Ia berniat untuk tidak mengulangi pekerjaannya karena tidak mau disebut sebagai saudaranya setan. Uang 50 Ribu pun ditolaknya.
Orang kedua yang ditemui pak nailul adalah pemabuk. Ketika Pak nailul menyodorkan uang 50 Ribu, sang pemabuk pun bertanya apa maksud dari pemberian ini, “Mengapa engkau memberikan uang sebanyak ini padaku padahal aku adalah seorang pemabuk yang suka menghamburkan uang untuk membeli minuman keras?”
Pak nailul menjawab, “Justru karena itulah aku ingin memberimu uang ini.”
Ia lalu menceritakan nadzar dan mimpinya.
Mendengar penuturan pak nailul, sang pemabuk pun lalu tersungkur lemas, bersujud dan tak henti-hentinya ia mengucapkan kalimat istighfar. Uang 50 Ribu ia enggan menerimanya pula.
Orang ketiga yang ditemuinya yaitu penjudi, ketika mendengar cerita pak nailul, ia lantas bertaubat dari kebiasaannya berjudi. Orang keempat yaitu pendurhaka kepada kedua orangtua, begitu mendengar penuturan laki-laki itu, sambil menangis keras segera menuju rumah orangtuanya untuk meminta maaf kepada mereka.
Baik orang ketiga juga orang keempat menolak menerima uang 50 Ribu dari Pak nailul.
Dengan langkah kelelahan akhirnya pak Nailul menemukan rumah saudara setan yang terakhir, yaitu seorang yang kikir lagi tamak. Dengan napas terengah-engah, ia lalu mengetuk pintu rumah yang megah itu.
Dalam hati pak nailul ada terbersit kekhawatiran, bahwa si kikir ini akan menolak juga uang nadzar darinya seperti saudara-saudara setan yang lain.
“Assalamu alaikum…!”
Tak lama si bakhil, sang pemilik rumah, mengeluarkan kepalanya dari pintu tanpa menjawab salam pak Nailul. Tubuhnya tersembunyi, hanya kepalanya saja yang kelihatan. “Pak, ada keperluan apa…?!
“Aku ingin memberimu uang 50 Ribu.”
Mendengar kata-kata uang, si bakhil bin serakah ini langsung membuka pintu dan segera mempersilahkan pak Nailul.
“Mengapa engkau memberiku uang
sebanyak ini, apa kau pernah punya hutang padaku…?”
Lalu Pak nailul itu menceritakan nadzar dan mimpinya serta pertemuannya dengan pezina, pemabuk, penjudi dan orang yang durhaka pada orang tuanya.
Mendengar kisah ini, si kikir lagi serakah langsung saja mengulurkan tangannya sambil berkata, “Kalau mereka tak mau terima uangnya, berikan saja semua uang itu kepadaku..!”
Dengan mata terbelalak pak nailul segera menyerahkan uangnya dan beranjak dari rumah tersebut seraya berkata, “Engkau benar-benar saudaranya setan…!!”

About ashabulfirdaus

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s